Menurutnya, metode ini tidak menyalahi ajaran Islam, karena yang terpenting adalah menjalankan puasa selama 29 atau 30 hari, sebagaimana yang diajarkan dalam agama.
"Saya meyakini perhitungan Pak Kiai. Yang penting puasanya kalau tidak 29 hari, ya 30 hari. Tidak mungkin 28 hari. Tidak ada larangan dalam Islam terkait perbedaan, yang salah ya yang tidak puasa," tambahnya.
Perbedaan penetapan Idul Fitri seperti ini memang sudah terjadi di beberapa pesantren di Indonesia, terutama yang memiliki metode perhitungan tersendiri.
Meskipun begitu, perbedaan ini tetap dihormati sebagai bagian dari keanekaragaman metode dalam Islam.
Artikel Terkait
Israel Perluas Serangan Darat di Gaza Selatan, Rafah Jadi Target Terbaru
Bill Gates Ramal AI Bakal Ganti Pekerjaan Guru dan Dokter dalam 10 Tahun Ke Depan.
Brutal! Pria Tak Dikenal Bacok Tiga Warga di Bandar Lampung, Satu Tewas, Pelaku Ditembak Polisi
Kecelakaan Maut di Tol Cipali, Sopir Diduga Mengantuk, Satu Orang Tewas
Kecelakaan Beruntun di Jalur Alternatif Puncak, Satu Pengendara Tewas
Pemerintah Didesak Perketat Pengawasan Impor Beras, Ada Dugaan Kecurangan!
Prabowo dan Gibran Akan Salat Idutfitri di Istiqlal, Menag: InsyaAllah Saya Ikut
Jasad Bayi Ditemukan di Kamar Hotel di Jakarta Pusat, Polisi Selidiki Pelaku
Babak Baru Suriah: Presiden Ahmed al-Sharaa Umumkan Kabinet Transisi, Pemerintahan Tanpa Perdana Menteri
Hamas Terima Rancangan Gencatan Senjata, Berharap Israel Tak Menghambat Kesepakatan