INSIBERNEWS - Warga dan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Mahfilud Dluror di Desa Suger, Kecamatan Jelbuk, Jember, Jawa Timur, melaksanakan Salat Idul Fitri 1 Syawal 1446 H pada Minggu (30/3/2025), sehari lebih awal dari ketetapan pemerintah yang menetapkan Idul Fitri jatuh pada Senin (31/3/2025).
Keputusan ini diambil berdasarkan metode perhitungan hisab menggunakan sistem Khumasi, yang sudah digunakan di pesantren tersebut sejak tahun 1911.
Puasa Ramadan Selama 30 Hari dengan Perhitungan Sendiri
Meskipun Lebaran lebih awal, santri Ponpes Mahfilud Dluror tetap menjalankan puasa Ramadan selama 30 hari penuh. Hal ini dikarenakan awal puasa mereka dimulai lebih awal, yakni pada 28 Februari 2025, berbeda dengan pemerintah yang menetapkan puasa pada 1 Maret 2025.
Pimpinan Pondok Pesantren Mahfilud Dluror, KH Ali Wafa, mengungkapkan bahwa penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri di pesantren ini didasarkan pada kitab Najhatul Majalis, karya Syaikh Abdurrahman As-Sufuri Asy-Syafii.
"Di pesantren ini, Insyaallah sudah dilakukan sejak tahun 1911, saat pesantren ini dipimpin oleh kakek saya, KH Muhammad Sholeh. Beliau berguru kepada KH Abdul Hamid Misbat dari Pondok Pesantren Banyuanyar, Madura," ujar KH Ali Wafa, yang akrab disapa Lora Ali Wafa, usai melaksanakan Salat Id.
Baca Juga: Warga Negeri Wakal Maluku Gelar Salat Id Lebih Awal: Ikuti Perhitungan Bulan, Bukan Almanak
Sistem Khumasi: Menentukan Awal Puasa dan Lebaran 8 Tahun ke Depan
Lebih lanjut, Lora Ali Wafa menjelaskan bahwa sistem Khumasi menentukan awal puasa dan Idul Fitri dengan selisih lima hari dari tahun sebelumnya.
"Sistem ini dikemukakan oleh Imam Ja’far Ash-Shodiq, salah satu keturunan Nabi Muhammad SAW. Kitab Najhatul Majalis ini setebal 246 halaman, mencakup berbagai hal, tidak hanya soal awal puasa dan Lebaran," jelasnya.
Berdasarkan perhitungan ini, tanggal Ramadan dan Idul Fitri sudah bisa ditentukan jauh-jauh hari. Bahkan, dalam siklus delapan tahun (sewindu), ada beberapa tahun di mana perhitungan mereka cocok dengan pemerintah.
"Dalam lima tahun, setidaknya ada 2 hingga 3 kali lebaran yang sama dengan pemerintah," lanjutnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Gelar Open House di Istana Merdeka pada 31 Maret
Jemaah dari Berbagai Wilayah Mengikuti Salat Id Lebih Awal
Ibadah Salat Idul Fitri yang dilakukan di Ponpes Mahfilud Dluror tidak hanya diikuti oleh warga sekitar, tetapi juga oleh jemaah dari daerah lain, terutama karena pesantren ini berada di perbatasan Kabupaten Jember dan Bondowoso.
Seorang jemaah asal Kecamatan Maesan, Bondowoso, bernama Subhan, mengungkapkan bahwa ia memilih mengikuti perhitungan pesantren karena memiliki keyakinan terhadap metode tersebut.
"Saya dan keluarga ikut Salat Id di sini karena mengikuti hitungan Pak Kiai. Saya dulu juga mondok di sini (Ponpes Mahfilud Dluror)," ujar Subhan.
Artikel Terkait
Israel Perluas Serangan Darat di Gaza Selatan, Rafah Jadi Target Terbaru
Bill Gates Ramal AI Bakal Ganti Pekerjaan Guru dan Dokter dalam 10 Tahun Ke Depan.
Brutal! Pria Tak Dikenal Bacok Tiga Warga di Bandar Lampung, Satu Tewas, Pelaku Ditembak Polisi
Kecelakaan Maut di Tol Cipali, Sopir Diduga Mengantuk, Satu Orang Tewas
Kecelakaan Beruntun di Jalur Alternatif Puncak, Satu Pengendara Tewas
Pemerintah Didesak Perketat Pengawasan Impor Beras, Ada Dugaan Kecurangan!
Prabowo dan Gibran Akan Salat Idutfitri di Istiqlal, Menag: InsyaAllah Saya Ikut
Jasad Bayi Ditemukan di Kamar Hotel di Jakarta Pusat, Polisi Selidiki Pelaku
Babak Baru Suriah: Presiden Ahmed al-Sharaa Umumkan Kabinet Transisi, Pemerintahan Tanpa Perdana Menteri
Hamas Terima Rancangan Gencatan Senjata, Berharap Israel Tak Menghambat Kesepakatan