news

Belum Ada Obatnya, Bagaimana Gejala dan Cara Mencegah Virus HMPV?

Rabu, 8 Januari 2025 | 13:36 WIB
Kemenkes ajak masyarakat untuk tidak khawatir mengenai virus HMPV (Unsplash)

INSIBERNEWS - Virus Human Metapneumovirus (HMPV) ramai dibicarakan masyarakat setelah dilaporkan bahwa penyebarannya telah ditemukan di Indonesia.

Berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan mencatat kasus virus HMPV yang ditemukan melibatkan anak-anak.

Menyoroti hal ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat untuk tidak panik, karena HMPV bukanlah virus baru dan sudah dikenal dalam dunia medis.

Baca Juga: Usia Pensiun Di Indonesia Naik Jadi 59 Tahun Mulai 2025, Harus Siap Hadapi Tantangan Baru

“HMPV sudah lama ditemukan di Indonesia, kalau dicek apakah ada, itu ada. Saya sendiri kemarin melihat data di beberapa lab, ternyata beberapa anak ada yang terkena HMPV,” kata Menkes di Jakarta, Senin, 6 Januari 2025.

Dijelaskan oleh Menkes, virus HMPV berbeda dengan virus COVID-19. Menurutnya, COVID-19 merupakan virus baru, sedangkan HMPV adalah virus lama yang sifatnya mirip dengan flu.

Sistem imunitas manusia sudah mengenal virus ini sejak lama dan mampu meresponsnya dengan baik.

Baca Juga: Situs YLBHI Diretas Lagi, Kini Muncul Tampilan Bahwa Situs Diblokir oleh KOMINFO

“Berbeda dengan COVID-19 yang baru muncul beberapa tahun lalu, HMPV adalah virus lama yang sudah ada sejak 2001 dan telah beredar ke seluruh dunia sejak 2001. Selama ini juga tidak terjadi apa-apa juga,” ujar Menkes.

Mengutip dari laman Cleveland Clinic, peneliti memperkirakan sekitar 10% hingga 12% dari penyakit saluran pernapasan pada anak-anak disebabkan oleh HMPV.

Sebagian besar kasus bersifat ringan, tetapi sekitar 5% hingga 16% anak-anak akan mengembangkan infeksi saluran pernapasan bagian bawah seperti pneumonia.

Baca Juga: Disorot Media Asing, Ungkapan Syukur Penerima Makan Bergizi Gratis saat Diwawancarai Al Jazeera: Alhamdulillah Kami Terbantu

Human Metapneumovirus (HMPV) paling sering menyebabkan gejala yang mirip dengan flu biasa, tetapi beberapa orang bisa mengalami sakit yang sangat parah.

Penyakit ini lebih mungkin untuk sakit parah pada infeksi pertama kali, sehingga itulah mengapa anak-anak memiliki risiko lebih tinggi untuk sakit serius.

Halaman:

Tags

Terkini