Menurut Ary Mahayasa, penugasan tersebut bukan dilakukan secara mendadak. Prajurit bersangkutan telah menjalankan tugas sebagai ajudan selama sekitar satu tahun.
Penugasan itu juga disebut telah melalui mekanisme permohonan resmi dan dilengkapi surat.
"Perizinan sejak tahun lalu memang sebagai ajudan dari anggota DPD tersebut. Ada surat resmi, makanya kita dalami hal-hal seperti ini," jelasnya.
Baca Juga: Sherina Munaf Turun Padamkan Karhutla di Kalteng, Ungkap Asap Tebal Sampai Masuk Pesawat
Meski penugasan sebagai ajudan telah memiliki dasar administrasi, TNI AL tetap melakukan pemeriksaan untuk memastikan seluruh kegiatan prajurit selama berada di Bangkok sesuai ketentuan yang berlaku.
Arya Wedakarna Buka Suara soal Kehadiran di Miss Equality World 2026
Sementara itu, kehadiran Arya Wedakarna di ajang Miss Equality World 2026 sebelumnya juga menjadi perbincangan publik setelah sejumlah fotonya beredar di media sosial.
Arya menjelaskan bahwa keberadaannya di Thailand merupakan bagian dari agenda kunjungan atas undangan penyelenggara. Ia menyebut terdapat sejumlah kegiatan yang dijalani selama berada di negara tersebut.
Baca Juga: Tangis Histeris Guru SD di Aceh Tengah, Rumah Ludes Terbakar Saat Ditinggal Mengajar ke Sekolah
"Acara di Thailand itu acara undangan. Acaranya banyak, jadi selama 3 hari kemarin ada kegiatan juga, seperti saya berkunjung vihara ada juga berkunjung ke kuil Hindu dan itu ada semua di media sosial," kata Arya, dikutip Kamis (3/9/2026).
Menurut Arya, kunjungannya tidak hanya berkaitan dengan kontes kecantikan tersebut. Ia mengaku menjalani sejumlah agenda lain, termasuk pertemuan lintas bidang dan diskusi.
Ia juga menyatakan kehadirannya dalam kapasitas sebagai tokoh budaya Bali sekaligus untuk memperkenalkan potensi pariwisata Bali Barat.
Baca Juga: BBM Nonsubsidi Resmi Naik per 1 September 2026, Ini Daftar Lengkap Harganya!
Terkait kontroversi mengenai acara yang dihadirinya, Arya menilai dirinya datang sebagai tamu sehingga tidak berada dalam posisi untuk memberikan penilaian terhadap penyelenggara maupun peserta.
"Dalam acara itu memang berbagai kalangan. Mungkin kalangan yang dianggap normal, tidak normal. Kita tahu Thailand seperti apa kan. Kita sebagai tamu kan tidak berhak mengomentari terkait panitianya siapa, gendernya apa. Itu kan etika. Kita tidak dalam posisi mengomentari," tuturnya. ***