INSIBERNEWS - Gelombang serangan udara terbaru dari Amerika Serikat (AS) yang menggempur sejumlah wilayah di Iran pada Selasa malam memicu tragedi kemanusiaan yang mendalam.
Kementerian Kesehatan Iran melaporkan bahwa rentetan serangan mematikan tersebut tidak hanya merusak infrastruktur militer, tetapi juga merenggut korban jiwa dari kalangan sipil, termasuk anak-anak, sementara puluhan warga lainnya mengalami luka-luka serius dan membutuhkan penanganan darurat.
Kepala Pusat Hubungan Masyarakat dan Informasi Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, mengonfirmasi bahwa salah satu titik dengan dampak kerusakan dan korban terparah berada di kawasan pesisir Desa Kouhestak, Provinsi Hormozgan.
"Menurut informasi yang disampaikan rekan-rekan saya di Universitas Ilmu Kedokteran Hormozgan, sejumlah warga kami tewas di Desa Kouhestak. Seorang anak termasuk di antara mereka yang tewas. Listrik dan layanan telepon saat ini terputus. Lebih dari 50 warga juga terluka. Informasi lebih lanjut akan menyusul," tulis Kermanpour melalui akun X pribadinya pada Rabu (2/9/2026).
Tragedi yang tak kalah memilukan juga dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Iran, Fars, yang mencatat setidaknya dua nyawa melayang dan 20 orang lainnya terluka ketika gempuran udara AS menghantam sebuah acara pernikahan warga sipil di Kota Sirik.
Jangkauan serangan ini rupanya menyebar luas secara terkoordinasi, menyasar wilayah vital lainnya seperti Kabupaten Konarak, Kota Jask, hingga area Bandar Lengeh di perbatasan pesisir selatan.
Eskalasi militer ini turut menghancurkan fasilitas publik, di mana lembaga penyiaran pemerintah Iran (IRIB) mengklaim sebuah bandara sipil komersial di Kota Jiroft, tenggara Iran, tak luput dari hantaman misil.
Baca Juga: Mual hingga Sesak Napas, Ratusan Santri di Sidoarjo Dilarikan ke 8 RS Buntut Keracunan MBG
Suasana mencekam juga menyelimuti kota pelabuhan Bandar Abbas hingga kawasan Pulau Qeshm, di mana rentetan ledakan hebat terdengar menggema berulang kali dari arah Selat Hormuz hingga kawasan Desa Masan.
Serangan mematikan ini menjadi babak baru dari panasnya eskalasi konflik berdarah antara Teheran dan Washington yang telah berkobar hebat sejak akhir Februari lalu.
Kedua belah pihak sebenarnya sempat meredam ketegangan lewat kesepakatan gencatan senjata pada bulan Juni berkat mediasi alot dari Qatar dan Pakistan, yang secara khusus menyepakati penghentian permusuhan dan jaminan keamanan rute navigasi dagang di Selat Hormuz.
Sayangnya, kedamaian tersebut hanya berumur jagung setelah perselisihan strategis terkait jalur pelayaran kembali memicu amarah dan pergerakan militer kedua belah pihak.
Kegagalan diplomasi ini berujung pada kampanye pengeboman sporadis oleh AS sejak bulan Juli yang disusul dengan blokade laut, meski hingga kini kepastian jumlah kerugian serta total korban sipil dari pihak Iran masih membutuhkan verifikasi dari lembaga pemantau independen.***