Seleksi Mitra Harus Transparan dan Bebas Intervensi
Tantangan lain yang menjadi sorotan adalah proses penunjukan yayasan mitra dan pengelola SPPG. Noviardi menilai proses seleksi harus dilakukan secara terbuka guna menghindari potensi konflik kepentingan maupun intervensi politik.
Ia menekankan bahwa Program Makan Bergizi Gratis merupakan program negara yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat luas, sehingga seluruh tahapan seleksi mitra harus mengedepankan profesionalisme dan akuntabilitas.
Baca Juga: Iran Siapkan Pemakaman Mendiang Akbar Ali Khamenei, 20 Juta Warga Diperkirakan Hadir
Untuk itu, ia mendukung pembentukan tim verifikasi independen yang terdiri dari tenaga profesional di bidang teknis, hukum, logistik, dan pengawasan, serta tidak memiliki keterkaitan dengan partai politik maupun kelompok kepentingan tertentu.
Pengawasan Digital Dinilai Mendesak
Besarnya anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk program MBG juga dinilai harus diimbangi dengan sistem pengawasan modern berbasis teknologi.
Noviardi mendorong pembangunan dashboard digital nasional yang memungkinkan seluruh proses program dipantau secara real-time. Sistem tersebut dapat digunakan untuk memonitor kualitas bahan baku, distribusi makanan, penggunaan anggaran, hingga pelaporan insiden yang terjadi di lapangan.
Menurutnya, keterbukaan informasi menjadi langkah penting untuk mencegah penyimpangan sejak dini.
"Transparansi harus mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari pengadaan bahan baku, distribusi, hingga penggunaan anggaran. Dengan begitu, masyarakat juga dapat ikut mengawasi pelaksanaan program," katanya.
Pengawasan MBG, lanjut Noviardi, tidak dapat dibebankan hanya kepada satu lembaga. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari Dinas Kesehatan, puskesmas, BPOM, pemerintah daerah, hingga masyarakat untuk menciptakan sistem pengawasan berlapis yang lebih efektif.
Kolaborasi tersebut diyakini mampu meningkatkan kualitas pelaksanaan program sekaligus memperkuat akuntabilitas di setiap tingkatan.
Ukur Keberhasilan dari Dampak Gizi
Lebih jauh, Noviardi mengingatkan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak semata-mata diukur dari jumlah makanan yang dibagikan setiap hari.
Baca Juga: WADUH! Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pemerintah dan BI Perkuat Sinergi
Menurutnya, indikator utama yang harus menjadi fokus adalah peningkatan status gizi masyarakat, penurunan angka kekurangan gizi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam jangka panjang.
"MBG berpotensi menjadi salah satu investasi sosial terbesar bagi Indonesia. Namun keberhasilannya hanya dapat dicapai melalui tata kelola yang baik, pengawasan yang kuat, keamanan pangan yang terjamin, serta pelaksanaan yang bebas dari konflik kepentingan. Transparansi dan pengawasan adalah kunci utama suksesnya program ini," pungkasnya. ***