INSIBERNEWS– Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo dan Uganda belum masuk kategori pandemi global.
Meski demikian, WHO menilai risiko penyebaran penyakit mematikan tersebut tetap tinggi di tingkat nasional dan regional sehingga memerlukan respons internasional yang cepat dan terkoordinasi.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan bahwa situasi Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo dan Uganda saat ini berstatus Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Namun, status itu tidak berarti dunia menghadapi darurat pandemi.
Tedros menjelaskan, Komite Darurat WHO yang menggelar pertemuan pada Selasa (19/5) menyetujui penilaian sebelumnya terkait ancaman wabah Ebola di dua negara Afrika tersebut.
Baca Juga: Netanyahu Sentil Ben Gvir usai Video Penculikan Aktivis Gaza Viral, WNI dalam Flotilla Disorot
Menurut WHO, tingkat risiko epidemi Ebola tergolong tinggi di wilayah terdampak dan kawasan sekitarnya, tetapi masih rendah pada level global.
Kasus Ebola di RD Kongo Terus Bertambah
WHO mengungkapkan bahwa skala wabah Ebola di RD Kongo jauh lebih besar dibandingkan Uganda. Hingga kini, sebanyak 51 kasus Ebola telah terkonfirmasi di wilayah Ituri dan Kivu Utara, dua provinsi di bagian timur laut negara tersebut.
Selain kasus yang telah dipastikan, terdapat hampir 600 kasus suspek serta 139 kematian suspek yang masih dalam proses investigasi.
Tedros memperingatkan bahwa angka tersebut kemungkinan masih akan meningkat. Hal itu disebabkan virus diduga telah menyebar cukup lama sebelum wabah berhasil terdeteksi oleh otoritas kesehatan.
Baca Juga: Pro-Kontra Tembak Begal di Tempat, Pigai Ingatkan Risiko Pelanggaran HAM
“Kami memperkirakan jumlah kasus terus bertambah karena penularan berlangsung sebelum wabah teridentifikasi,” ujarnya.
Sementara itu, Uganda juga melaporkan perkembangan terbaru terkait penyebaran Ebola. WHO menerima pemberitahuan mengenai dua kasus terkonfirmasi di Kampala, ibu kota Uganda.
Dari dua pasien tersebut, satu dilaporkan meninggal dunia. Keduanya diketahui melakukan perjalanan dari RD Kongo menuju Uganda. Selain itu, seorang warga negara Amerika Serikat yang bekerja di RD Kongo juga dinyatakan positif Ebola.
Situasi ini memicu kekhawatiran mengenai potensi penyebaran lintas batas, mengingat mobilitas penduduk antarnegara di kawasan Afrika Timur cukup tinggi.