news

BPS Ungkap Penurunan Tingkat Pengangguran pada Februari 2026 Turun 4,68 Persen, Sektor Industri dan Agraris Masih Jadi Tulang Punggung

Selasa, 5 Mei 2026 | 15:36 WIB
Ilustrasi Pengangguran (Foto : qubaca.id)

INSIBERNEWS - Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data terbaru yang membawa angin segar bagi kondisi ketenagakerjaan di tanah air. Berdasarkan laporan periodik per Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia tercatat berada di level 4,68 persen. Angka ini menunjukkan adanya pergerakan positif dalam penyerapan tenaga kerja jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, mencerminkan daya tahan ekonomi nasional yang mulai stabil.

Secara angka absolut, jumlah penduduk yang belum mendapatkan pekerjaan mengalami penyusutan yang cukup berarti. Dari data sebelumnya yang mencatat sebanyak 7,28 juta orang, kini jumlah tersebut turun menjadi 7,24 juta orang. Penurunan jumlah pengangguran ini terjadi di tengah pertumbuhan angkatan kerja yang terus merangkak naik, di mana saat ini total angkatan kerja di Indonesia telah menyentuh angka 154,91 juta jiwa.

Baca Juga: Bukan Sekadar Error, Ahmad Dhani Endus Campur Tangan ‘Otoritas Kuat’ di Balik Hilangnya Akun Instagram

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, memaparkan hasil temuan ini secara langsung dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Selasa (5/5/2026). Ia menekankan bahwa perbaikan angka ini merupakan cerminan dari dinamika lapangan kerja yang mulai bergerak lebih produktif. Hal ini menjadi catatan penting bagi pemerintah dalam menyusun strategi pemulihan ekonomi di kuartal berikutnya agar tren penurunan ini terus berlanjut.

“Tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2026 adalah 4,68 persen,” ungkap Amalia dengan lugas di hadapan awak media yang hadir dalam kesempatan tersebut.

Baca Juga: Bidik Potensi 650 Juta Jiwa, Erick Thohir Ajak ASEAN Bangun Raksasa Industri Olahraga Baru

Lebih lanjut, Amalia memberikan gambaran mendalam mengenai sektor apa saja yang menjadi tulang punggung dalam menyerap jutaan tenaga kerja tersebut. Ternyata, sektor pertanian masih menjadi primadona sekaligus penyelamat bagi sebagian besar pekerja di Indonesia. Meskipun modernisasi mulai merambah berbagai bidang, sektor agraris terbukti tetap tangguh dalam menyediakan mata pencaharian bagi masyarakat di berbagai daerah.

Selain pertanian, sektor perdagangan besar dan eceran serta industri pengolahan juga memegang peranan krusial. Ketiga sektor raksasa ini jika digabungkan mampu menyerap sekitar 60,29 persen dari total tenaga kerja nasional. Hal ini menunjukkan bahwa roda ekonomi masyarakat masih berputar kencang di pasar-pasar tradisional, ritel modern, serta pabrik-pabrik manufaktur yang terus beroperasi memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun ekspor.

Baca Juga: Perkuat Perisai Keamanan Nasional, Presiden Prabowo Resmikan Strategi Besar Lawan Ekstremisme 2026 hingga 2029

Pemerintah sendiri melihat dominasi ketiga sektor ini sebagai tantangan sekaligus peluang untuk melakukan penguatan kualitas SDM. Dengan konsentrasi pekerja yang begitu besar pada bidang pertanian dan perdagangan, diperlukan kebijakan yang mampu meningkatkan produktivitas agar pendapatan pekerja di sektor tersebut juga ikut terdongkrak. Langkah ini penting agar penurunan angka pengangguran berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan.

Di sisi lain, tantangan bagi sisa angkatan kerja yang belum terserap tetap menjadi pekerjaan rumah bagi para pemangku kepentingan. Dinamika pasar kerja yang berubah cepat menuntut angkatan kerja baru untuk lebih adaptif dan memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Transformasi digital yang kian masif diharapkan mampu menciptakan celah-celah pekerjaan baru di luar sektor tradisional yang selama ini mendominasi.

Baca Juga: Cegah Kekerasan Seksual, MUI Desak Pengawasan Ketat di Pesantren

BPS berharap data ini dapat menjadi acuan bagi pihak swasta maupun pemerintah dalam merancang program pemberdayaan masyarakat. Tren penurunan angka pengangguran ini diharapkan tidak hanya bersifat musiman, melainkan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih inklusif ke depannya. Sinergi antara sektor pendidikan dan industri menjadi kunci utama agar jutaan angkatan kerja yang ada mampu berkontribusi maksimal bagi kemajuan bangsa.***

Tags

Terkini