INSIBERNEWS - Memasuki tahun 2026, perekonomian Indonesia menunjukkan sinyal awal yang menjanjikan. Sejumlah indikator utama bergerak ke arah positif, mulai dari stabilitas pasar keuangan, penguatan pasar saham, hingga inflasi yang mulai berada di level lebih sehat. Kondisi ini menjadi bekal penting bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam mengawal kebijakan ekonomi nasional.
Pasar keuangan domestik dibuka dengan performa yang lebih solid dibandingkan awal 2025. Stabilitas ini dinilai memberi ruang gerak lebih luas bagi pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan, terutama di tengah dinamika global yang sebelumnya cukup menekan.
Baca Juga: Ritel Diprediksi Tetap Bergairah di 2026, Daya Beli Terjaga di Tengah Tantangan Global
BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan terbarunya menilai titik awal ekonomi 2026 jauh lebih kondusif. Tekanan besar yang sempat membebani pasar tahun lalu, seperti penguatan dolar AS, lonjakan imbal hasil global, dan ketatnya likuiditas, kini mulai mereda secara bertahap.
“Starting point 2026 terlihat jauh lebih stabil dibandingkan awal 2025, dengan sejumlah tekanan utama yang sebelumnya dominan kini justru melemah,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam laporannya, Rabu (14/1).
Dari sisi global, tren inflasi yang terus melandai membuka peluang kebijakan moneter yang lebih longgar. Sikap bank sentral Amerika Serikat yang cenderung akomodatif diperkirakan menahan penguatan dolar AS dan mempersempit selisih suku bunga global, kondisi yang relatif menguntungkan bagi negara berkembang termasuk Indonesia.
Baca Juga: China Geram! Tuduh AS Seret Nama Beijing di Balik Ambisi Kuasai Greenland
Likuiditas global juga dinilai masih cukup longgar. Yield jangka pendek bertahan, sementara kenaikan imbal hasil tenor panjang lebih dipengaruhi risiko fiskal dan geopolitik, bukan oleh pengetatan moneter agresif. Situasi ini memberi ruang stabilitas bagi pasar obligasi dan aset berisiko.
Sentimen positif turut tercermin di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 3,4 persen secara year to date dan sempat menembus level psikologis 9.000 pada pekan pertama Januari 2026. Secara historis, penguatan di awal tahun kerap menjadi sinyal meningkatnya minat risiko investor.
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas mengingatkan bahwa performa tahunan tetap sangat dipengaruhi kondisi makro dan rotasi sektor. Pengalaman tahun sebelumnya menunjukkan penguatan IHSG bisa bersifat selektif dan tidak merata di seluruh saham.
Baca Juga: Negara Siap Gugat Korporasi, Enam Perusahaan Terancam Digugat Triliunan Rupiah atas Banjir Sumatra
Dari dalam negeri, inflasi mulai bergerak ke arah yang lebih seimbang. Inflasi Desember 2025 tercatat 2,92 persen, tertinggi sejak 2022, didorong kenaikan harga emas, komponen volatile food, serta penyesuaian harga yang diatur pemerintah. Kenaikan inflasi inti yang moderat mencerminkan mulai pulihnya permintaan domestik.
Kebijakan pengupahan juga dinilai lebih terukur. Rata-rata kenaikan Upah Minimum Provinsi 2026 sebesar 5,82 persen dianggap mampu menjaga daya beli masyarakat tanpa menekan dunia usaha. Di sejumlah wilayah, seperti Sulawesi Tengah, kenaikan upah bahkan mencerminkan dampak positif dari program hilirisasi industri.
Baca Juga: KPK Dalami Dugaan Peran Elite PBNU dalam Skandal Kuota Haji 2023–2024