“Ini seperti menyeduh teh,” katanya.
“Airnya bukan berlumpur, justru sangat jernih. Warnanya menyerap cahaya matahari, bukan memantulkannya.”
Deny bahkan menceritakan pengalamannya memasukkan air sungai hitam ke dalam botol bening. Dalam kondisi biasa, air itu tampak seperti teh atau minuman soda. Namun saat terkena cahaya matahari, warnanya berubah menjadi kuning keemasan yang indah dan transparan.
Sayangnya, di balik keindahan tersebut, Deny menyoroti perubahan yang kini mulai terjadi. Ia mengungkap bahwa warna hitam alami di sejumlah sungai mulai bergeser menjadi cokelat keruh.
“Kalian tahu apa yang paling menyedihkan?” ucap Deny.
“Banyak sungai air hitam di Kalimantan berubah warna karena aktivitas tambang emas.”
Menurut Deny, limbah tambang menjadi ancaman serius bagi ekosistem sungai dan hutan hujan tropis. Ia berharap penjelasannya bisa membuka mata publik bahwa sungai air hitam bukanlah simbol pencemaran, melainkan kekayaan alam yang justru perlu dijaga sebelum benar-benar rusak oleh aktivitas manusia.***