news

RI–AS Siap Kunci Kerja Sama Dagang Baru, Tarif Turun dan Ekspor Unggulan Dapat Angin Segar

Rabu, 24 Desember 2025 | 11:12 WIB
Momen Menko Perekonomian Airlangga Hartarto Lakukan Negosiasi Tarif Impor dengan AS (Foto : Dok/Kemenko Perekonomian)

INSIBERNEWS - Pemerintah Republik Indonesia dan Amerika Serikat bersiap menandatangani kesepakatan dagang bilateral yang ditargetkan rampung sebelum akhir Januari 2026. Perjanjian ini menjadi langkah strategis kedua negara dalam memperkuat hubungan ekonomi di tengah dinamika perdagangan global yang kian kompetitif.

Kesepakatan tersebut merupakan hasil negosiasi lanjutan antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan United States Trade Representative (USTR) Ambassador Jamieson Greer.

Pertemuan keduanya berlangsung pada Senin, 12 Desember 2025, dan menghasilkan kesepahaman untuk mempercepat penyusunan draf perjanjian tarif hingga tahun 2026.

Baca Juga: Waspada! Kencing Berbusa Bisa Jadi Sinyal Masalah Serius dalam Tubuh, Simak Penjelasannya

Dalam perjanjian ini, Indonesia dan Amerika Serikat sepakat untuk menurunkan dan menyesuaikan tarif resiprokal perdagangan. Airlangga menyebutkan, langkah ini menjadi kemajuan signifikan setelah serangkaian perundingan intensif yang telah berlangsung sejak April lalu, menyusul kebijakan perdagangan AS yang dikenal sebagai Liberation Day.

“Tarif resiprokal Indonesia berhasil diturunkan dari 32 persen menjadi 19 persen. Ini hasil kerja panjang dan negosiasi yang tidak mudah,”ujar Airlangga dalam keterangannya.

Salah satu poin penting dalam kesepakatan tersebut adalah pemberian pengecualian tarif bagi sejumlah produk ekspor unggulan Indonesia. Komoditas seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, dan teh mendapatkan perlakuan khusus dari pemerintah Amerika Serikat, sehingga lebih kompetitif di pasar Negeri Paman Sam.

Baca Juga: Heboh! Email Ancaman Bom Guncang Sekolah di Depok, Polisi Telusuri Jejak Pengirim

Kebijakan ini dinilai sangat menguntungkan bagi Indonesia, mengingat produk-produk tersebut selama ini menjadi tulang punggung ekspor nasional. Selain meningkatkan daya saing, penurunan tarif juga diharapkan mampu memperluas akses pasar dan meningkatkan volume ekspor ke Amerika Serikat.

Dampak positif kesepakatan ini juga dirasakan oleh sektor industri padat karya. Pemerintah memperkirakan sekitar lima juta pekerja akan merasakan manfaat langsung dari kebijakan tarif yang lebih rendah, terutama di sektor perkebunan, pengolahan, dan manufaktur berbasis ekspor.

“Penyesuaian tarif ini memberi ruang napas bagi industri dan pekerja kita, terutama yang selama ini terdampak kebijakan tarif tinggi,”kata Airlangga.

Baca Juga: Darurat Sampah Tangsel, Gubernur Banten Turun Langsung Cari Jalan Keluar

Dokumen perjanjian dagang tersebut rencananya akan ditandatangani langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Amerika Serikat. Penandatanganan ini sekaligus menandai babak baru hubungan dagang kedua negara.

Pemerintah berharap kesepakatan ini tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga memperkuat fondasi kerja sama ekonomi jangka panjang antara Indonesia dan Amerika Serikat, termasuk peluang investasi, transfer teknologi, serta penguatan rantai pasok global.***

Tags

Terkini