Perbedaan pemanfaatan lahan ini, menurut Uchok, perlu diperhatikan pemerintah agar analisis terhadap penyebab bencana tidak dilakukan secara terburu-buru. Ia khawatir pemetaan penyebab yang tidak tepat justru akan membuat kebijakan mitigasi bencana meleset sasaran.
“Pemerintah harus benar-benar cermat menentukan akar masalahnya, karena tiap klaster industri punya dampak yang berbeda,” katanya.
Uchok menekankan bahwa mitigasi bencana tidak bisa hanya fokus pada respon darurat dan pemulihan, tetapi harus masuk pada reformasi tata kelola ruang. Ia menilai bahwa tanpa pembenahan perizinan, pengawasan, dan evaluasi industri ekstraktif, bencana serupa bukan tidak mungkin terjadi lagi.
Baca Juga: KAI Resmi Operasikan Kereta Khusus Petani dan Pedagang, Dorong Mobilitas Ekonomi Rakyat
Bagi Uchok, bencana kali ini adalah cermin betapa rapuhnya sistem perlindungan lingkungan kita. Siklon tropis mungkin hanya pemicu, tetapi kondisi ekologis yang lemah memperbesar skala kerusakan.
Pada akhirnya, kata Uchok, tragedi di Sumatra harus menjadi peringatan keras bagi semua pihak—baik pemerintah, industri, maupun publik—bahwa keberlanjutan lingkungan bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan mendesak untuk melindungi nyawa manusia.***