INSIBERNEWS - Rentetan banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat beberapa hari terakhir menjadi pukulan berat bagi masyarakat. Ribuan warga terdampak, puluhan wilayah terputus, dan korban jiwa terus bertambah. Di tengah suasana duka itu, pertanyaan besar muncul: apa sebenarnya penyebab utama bencana yang datang beruntun ini?
Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai penyebabnya tidak bisa hanya disandarkan pada faktor cuaca ekstrem. Menurutnya, siklon tropis Senyar memang membawa hujan dengan intensitas luar biasa, namun ada peran manusia yang tak boleh diabaikan.
“Faktor inilah yang harus ditelusuri agar ketemu akar penyebabnya,” ujar Uchok dalam keterangannya, Selasa (9/12/2025).
Ia menjelaskan bahwa tekanan pada lingkungan di Sumatra sudah lama terjadi akibat masifnya ekspansi industri. Mulai dari perkebunan, pertambangan, hingga industri kertas, semuanya memiliki jejak panjang dalam perubahan bentang alam yang membuat wilayah tersebut makin rentan terhadap bencana hidrometeorologi.
Sektor kelapa sawit disebut menjadi yang paling dominan. Dengan konsesi resmi mencapai 2,018 juta hektare, luas lahan sawit telah mengubah banyak kawasan hutan menjadi area produksi.
Belum lagi perkebunan ilegal yang kerap membuka lahan secara brutal, tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan. Salah satu temuan yang disorot Uchok ialah dugaan penanaman sawit ilegal oleh PT Sinar Gunung Sawit Raya seluas 451 hektare.
Menurutnya, pembukaan lahan ilegal seperti itu memperbesar risiko banjir dan longsor karena struktur tanah kehilangan daya serap dan perlindungan alaminya. Begitu hujan ekstrem turun, tanah tidak lagi mampu mengikat air.
Tak hanya sawit, sektor tambang juga ikut disorot. PT Agincourt Resources, pengelola tambang emas Martabe, memiliki konsesi luas mencapai 130.252 hektare.
Baca Juga: Kecopetan saat Liburan di Bali, Polisi Tangkap Pencuri Dompet Jeon Hye Bin
Dari angka tersebut, sekitar 40 ribu hektare tumpang tindih dengan kawasan ekosistem Batang Toru—habitat satwa langka seperti orangutan Tapanuli—dan 30 ribu hektare lainnya berada di kawasan hutan lindung Tapanuli.
Area seluas itu, kata Uchok, membuat tekanan ekologis di wilayah pegunungan semakin besar. Ketika penyangga alami dikurangi, potensi gerakan tanah meningkat drastis, terutama saat curah hujan ekstrem datang dalam waktu singkat.
Klaster ketiga yang dinilai patut dikaji adalah industri kertas. PT Toba Pulp Lestari (TPL) menjadi pemain terbesar dengan area konsesi 167.912 hektare. Sekitar 46 ribu hektare ditanami eukaliptus dan 48 ribu hektare ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Meski demikian, intensitas pemanfaatan lahan TPL jauh lebih kecil dibanding perkebunan sawit, yakni sekitar 2,3 persen dari total luas konsesi.
Artikel Terkait
KAI Resmi Operasikan Kereta Khusus Petani dan Pedagang, Dorong Mobilitas Ekonomi Rakyat
Selamat dari Banjir di Aceh Utara, Cerita Seorang Ibu dan Putrinya yang Bertahan 9 Jam pada Tumpukan Pohon Ceri
Gedung Terra Drone di Cempaka Putih Terbakar: 17 Orang Tewas, 15 Pegawai Berhasil Selamat usai Sempat Terjebak
Prabowo Tambah Anggaran Provinsi 20M dan Kabupaten 4M: Penuhi Kebutuhan Korban Bencana Bayi dan Perempuan
Banjir Sumatera Utara 2025 Telan 338 Korban Jiwa, BMKG Peringatkan Bibit Siklon Tropis 91S
Kontroversi Donasi 10 Miliar: Ferry Irwandi Respon Sindiran DPR soal Bencana Sumatera
Kecopetan saat Liburan di Bali, Polisi Tangkap Pencuri Dompet Jeon Hye Bin
Berbasis AI, Prabowo Bagikan Kacamata Pintar untuk Warga Tunanetra yang Dapat Scan Data, Uang hingga Lawan Bicara
Tragedi Terra Drone: 22 Karyawan Tewas Terjebak Asap, Damkar Ungkap Akar Masalahnya
Mendagri Jatuhkan Sanksi 3 Bulan untuk Bupati Aceh Selatan, Tegur Keras Kepala Daerah yang Pergi Saat Bencana