Ucapan tersebut seolah menggambarkan rasa prihatin Mahfud terhadap bagaimana konflik yang muncul tampak lebih didorong oleh perebutan akses dan keuntungan daripada idealisme organisasi atau komitmen keulamaan.
Meski demikian, Mahfud berharap dinamika yang terjadi bisa menjadi momentum evaluasi bersama, agar NU dapat kembali ke khittah perjuangannya—yakni menjadi rumah besar yang menjaga tradisi, merawat umat, dan bebas dari tarik-menarik kepentingan ekonomi. Ia menegaskan bahwa NU terlalu besar untuk dipertaruhkan demi urusan jangka pendek.
Pernyataannya pun menambah warna baru dalam diskursus publik mengenai arah gerak NU ke depan, terutama di tengah banyaknya tokoh yang mulai bersuara dan mendesak agar organisasi kembali pada prinsip-prinsip dasarnya.***