Ucapan tersebut seolah menggambarkan rasa prihatin Mahfud terhadap bagaimana konflik yang muncul tampak lebih didorong oleh perebutan akses dan keuntungan daripada idealisme organisasi atau komitmen keulamaan.
Meski demikian, Mahfud berharap dinamika yang terjadi bisa menjadi momentum evaluasi bersama, agar NU dapat kembali ke khittah perjuangannya—yakni menjadi rumah besar yang menjaga tradisi, merawat umat, dan bebas dari tarik-menarik kepentingan ekonomi. Ia menegaskan bahwa NU terlalu besar untuk dipertaruhkan demi urusan jangka pendek.
Pernyataannya pun menambah warna baru dalam diskursus publik mengenai arah gerak NU ke depan, terutama di tengah banyaknya tokoh yang mulai bersuara dan mendesak agar organisasi kembali pada prinsip-prinsip dasarnya.***
Artikel Terkait
Tanpa Jonatan Christie, Indonesia Turunkan Komposisi Baru di SEA Games 2025
Jalur Darat Terputus, Kota Langsa Terima Bantuan 1,5 Ton via Helikopter
Media Vietnam Soroti Kekuatan Timnas U-22 di SEA Games 2025: 'Indonesia Datang dengan Skuad Paling Serius!'
PBB Sampaikan Belasungkawa untuk Indonesia dan Asia Tenggara, Siap Bantu Penanganan Bencana Besar
Pemerintah Fokus Pulihkan 3 Provinsi Terdampak Bencana, Ketua MPR: Presiden Kerahkan Seluruh Kekuatan
Congrats! Jonathan Alden dan Brisia Jodie Resmi Menikah di Katedral Jakarta, Janji Suci yang Mengharukan Warnai Momen Bahagia
Rekrut WNI Pengangguran, BNN Bongkar Modus Dewi Astutik Buron Jaringan Narkoba Internasional
Siapkan Fasilitas Penyimpanan Permanen, Berikut Strategi Baru Pemerintah Hadapi Paparan Cesium-137 di Cikande
Kembali Berduka! Aktor Senior Epy Kusnandar Pemeran Kang Mus di Preman Pensiun Tutup Usia
Dinilai Kurang Inisiatif, Bupati Aceh Timur Ngamuk ke Satpol PP yang Tak Bawa Truk Pengangkut Bantuan saat Warga Terisolasi