Selain itu, kerja sama ini juga mencakup pelatihan dan pertukaran tenaga ahli, riset bersama tentang biosekuriti, serta penerapan sistem digital untuk sertifikasi ekspor-impor produk.
Dengan digitalisasi ini, proses administrasi akan menjadi lebih cepat, transparan, dan terintegrasi antara otoritas karantina kedua negara.
Dari sisi ekonomi, kesepakatan ini diharapkan mampu membuka akses yang lebih luas bagi produk unggulan Indonesia seperti kopi, kakao, rempah, buah tropis, dan hasil perikanan untuk menembus pasar Amerika Latin. Sementara bagi Brasil, kerja sama ini juga memberi peluang memperluas ekspor produk peternakan dan bahan baku pakan ke Indonesia.
Baca Juga: Danantara Bakal Negosiasi Langsung ke China Soal Utang Whoosh, Menkeu Purbaya Ogah Ikut
Presiden Prabowo dalam kesempatan itu menegaskan pentingnya kolaborasi internasional di sektor pangan dan pertanian untuk menjawab tantangan global.
“Indonesia ingin menjadi bagian dari rantai pasok pangan dunia yang sehat dan berkelanjutan. Kerja sama dengan Brasil adalah langkah nyata menuju tujuan itu,” ujarnya di hadapan delegasi kedua negara.
Dengan adanya MoU ini, posisi Indonesia di forum SPS internasional juga semakin kuat. Kerja sama dengan Brasil menjadi sinyal positif bahwa Indonesia siap bersaing di pasar global dengan standar keamanan pangan dan karantina yang diakui dunia.
Lebih dari sekadar kerja sama teknis, langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional dan memperkuat diplomasi ekonomi antarnegara. ***