Meski begitu, sejumlah pihak internasional menilai rencana ini masih menyisakan banyak pertanyaan. Sebagian analis menyoroti bagaimana pasukan multinasional akan beroperasi tanpa memicu ketegangan baru, sementara pihak Palestina menuntut agar rekonstruksi dan bantuan kemanusiaan menjadi prioritas utama sebelum pembentukan pemerintahan baru.
Baca Juga: Eks Staf Ahli Polisi Soroti Kasus Narkoba Ammar Zoni: Tuntut Sanksi yang Berat
Konflik di Gaza sendiri telah menelan korban jiwa yang sangat besar. Sejak Oktober 2023, serangan militer Israel dilaporkan menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina, mayoritas di antaranya perempuan dan anak-anak. Infrastruktur Gaza pun hancur parah, dengan ribuan bangunan, rumah sakit, dan sekolah tidak lagi dapat difungsikan.
Meskipun Trump mengklaim perjanjian ini sebagai “langkah menuju akhir penderitaan”, banyak pihak menilai keberlanjutan perdamaian akan sangat bergantung pada komitmen semua pihak untuk menghentikan kekerasan dan membuka akses kemanusiaan secara luas.
Dunia kini menunggu apakah fase dua yang diumumkan Trump benar-benar bisa membawa perubahan nyata bagi rakyat Gaza yang sudah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang perang.***