“Pengelolaan SAL harus efisien dan optimal, karena fungsi stabilisasi fiskal sangat penting di tengah dinamika ekonomi dunia maupun tantangan dalam negeri,” ujar Sri Mulyani dalam paparannya.
Kondisi perekonomian global yang penuh risiko, mulai dari fluktuasi harga komoditas, potensi perlambatan ekonomi, hingga ketegangan geopolitik, membuat pemerintah harus memiliki bantalan fiskal yang kuat. Dengan SAL dan HPA, pemerintah berharap APBN 2026 bisa lebih tangguh dan tidak terlalu bergantung pada pembiayaan utang.
Baca Juga: BI Kembali Pangkas Suku Bunga, Ekonomi Nasional Diharap Makin Ngebut
Kebijakan ini sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga disiplin fiskal sekaligus melindungi ruang belanja produktif, khususnya untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan program perlindungan sosial.
Dengan adanya cadangan fiskal yang lebih kuat, pemerintah optimistis ekonomi Indonesia tetap solid menghadapi tantangan di tahun depan.