INSIBERNEWS - Kemeriahan pawai karnaval di Mulyorejo, Kota Malang, berubah jadi kisruh pada Sabtu (12/7) lalu.
Pawai yang menampilkan sound horeg—sistem audio dengan volume ekstrem—mendapat protes keras dari warga hingga terjadi adu jotos di jalanan.
Dalam video yang beredar di media sosial, tampak seorang wanita berteriak terganggu dengan suara keras dari iring-iringan sound horeg.
Tak lama, seorang pria keluar dari rumah dan mendorong salah satu peserta pawai. Aksi dorong itu memicu keributan dan baku pukul di tengah keramaian.
Baca Juga: Polisi Razia Konvoi Sound Horeg di Jember, Warga Keluhkan Gangguan Tengah Malam
Kericuhan disebut dipicu oleh permintaan warga agar suara sound diperkecil atau dimatikan, karena di sekitar lokasi ada warga yang sedang sakit.
Sayangnya, permintaan itu tak digubris dan akhirnya berujung bentrokan.
Menanggapi hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang pun angkat suara. Ketua MUI KH Isroqunnajah menyayangkan kejadian tersebut dan menyebut bahwa penggunaan sound horeg membawa lebih banyak mudarat daripada manfaat.
"Ini dampaknya besar, seperti yang terjadi di karnaval kemarin. Jelas haram karena mengganggu orang lain," tegas Gus Is, sapaan akrabnya, pada Senin (14/7).
Baca Juga: Gemuruh Sound Horeg di Laut: Kemeriahan atau Bencana Bagi Warga? Sensasi yang Bikin Warga Geram!
Ia juga menyarankan agar masyarakat mencari alternatif hobi yang lebih positif. Menurutnya, hobi seperti sound horeg bisa dialihkan ke kegiatan lain yang tidak menimbulkan keresahan atau kerusakan lingkungan sosial.
“Penyaluran hobi itu sah-sah saja, tapi harus ada batasan. Jangan sampai hobi malah menyakiti orang lain, apalagi sampai timbul kerusuhan,” ujarnya.
Kericuhan di Malang ini menjadi pengingat bahwa batas antara hiburan dan gangguan bisa sangat tipis.
Suara keras mungkin menyenangkan bagi sebagian, tapi bisa menjadi siksaan bagi yang lain. Bijaklah dalam bermusik, agar tak berbuntut ricuh!