Jangan Sembarangan! Ini Larangan yang Tidak Boleh Dilakukan saat Malam Satu Suro Menurut Tradisi Jawa

Photo Author
- Kamis, 26 Juni 2025 | 14:45 WIB
Tradisi Malam Satu Suro  (Foto : Dok. Pemerintah Surakarta)
Tradisi Malam Satu Suro (Foto : Dok. Pemerintah Surakarta)

INSIBERNEWS - Malam Satu Suro, yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Islam, merupakan momen sakral dalam tradisi Jawa yang sarat dengan nilai spiritual dan mistis.

Masyarakat Jawa memandang malam ini sebagai waktu untuk introspeksi, penyucian diri, dan mendekatkan diri kepada Tuhan, sehingga terdapat sejumlah larangan yang dipegang teguh untuk menjaga kesakralan dan menghindari kesialan.

Baca Juga: Makna Filosofi dan Sejarah Malam Satu Suro Menurut Tradisi Jawa

Berikut adalah beberapa larangan utama yang tidak boleh dilakukan saat malam Satu Suro menurut tradisi Jawa:

1. Keluar Rumah Tanpa Keperluan Penting  

Salah satu larangan paling terkenal adalah tidak boleh keluar rumah pada malam Satu Suro, terutama setelah Maghrib. Masyarakat Jawa percaya bahwa malam ini adalah waktu ketika batas antara dunia gaib dan dunia manusia menjadi tipis, sehingga makhluk halus atau roh leluhur berkeliaran.

Keluar rumah tanpa keperluan seperti beribadah atau ziarah dianggap dapat mengundang kesialan atau gangguan gaib, terutama bagi mereka yang memiliki weton tertentu.

2. Berbicara Keras atau Berisik 

Tradisi tapa bisu (diam seribu bahasa) yang dilakukan di Keraton Yogyakarta, seperti dalam ritual Mubeng Beteng, menekankan larangan berbicara keras, berisik, atau mengucapkan kata-kata buruk.

Hal ini bertujuan untuk menjaga keheningan, menghormati kesakralan malam, dan sebagai bentuk introspeksi diri. Berkata kasar dipercaya dapat menarik perhatian makhluk gaib atau mendatangkan kesialan di tahun yang baru. 

Baca Juga: Shafeea Ahmad Disebut Mirip Almira Yudhoyono, Tissa Biani : Shafeea Lebih Cantik

3. Mengadakan Pesta atau Hajatan

Menggelar acara besar seperti pernikahan atau pesta pada malam Satu Suro dianggap tabu. Larangan ini berasal dari ajaran Sultan Agung, yang mendorong masyarakat untuk menyepi dan berdoa pada malam sakral ini.

Mengadakan hajatan dipercaya dapat mengganggu keseimbangan spiritual dan membawa malapetaka bagi pelaku. Bulan Suro secara umum dianggap sebagai waktu untuk kontemplasi, bukan perayaan duniawi.

4. Pindah Rumah atau Membangun Rumah  

Memulai pembangunan rumah atau pindah rumah pada malam Satu Suro dianggap membawa kesialan, seperti gangguan kesehatan, keuangan, atau musibah lainnya. Masyarakat percaya bahwa malam ini bukan waktu yang tepat untuk memulai proyek besar, karena energinya lebih cocok untuk refleksi dan pembersihan batin ketimbang aktivitas duniawi.

Baca Juga: Skandal LNG Pertamina! KPK Dalami Peran Eks Komisaris dan Pejabat Tinggi yang Rugikan Negara hingga Ratusan Miliar

5. Melakukan Perbuatan Tercela

Malam Satu Suro dianggap sebagai waktu untuk menjaga kebersihan hati dan pikiran. Oleh karena itu, dilarang melakukan perbuatan tercela seperti bertengkar, berkata kasar, atau berbuat dosa. Masyarakat diimbau untuk fokus pada kegiatan spiritual seperti berdoa, berzikir, atau tirakat agar mendapatkan berkah dan perlindungan di tahun yang baru.

Baca Juga: Hari Cerah untuk Ojol? DPR Panggil Menhub Bahas Regulasi dan Kesejahteraan Pengemudi

Halaman:

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X