Makna Filosofi dan Sejarah Malam Satu Suro Menurut Tradisi Jawa

Photo Author
- Kamis, 26 Juni 2025 | 14:37 WIB
Makna Filosofi dan Sejarah Malam Satu Suro Menurut Tradisi Jawa ternyata berarti sakral.  (Foto : gramedia.com)
Makna Filosofi dan Sejarah Malam Satu Suro Menurut Tradisi Jawa ternyata berarti sakral. (Foto : gramedia.com)

INSIBERNEWS - Malam Satu Suro merupakan momen sakral dalam tradisi Jawa yang jatuh pada malam tanggal satu bulan Muharram dalam kalender Islam, yang juga bertepatan dengan awal tahun baru dalam kalender Jawa.

Malam ini dianggap sebagai waktu penuh makna spiritual, refleksi, dan penyucian diri bagi masyarakat Jawa. Dalam tradisi Jawa, malam Satu Suro bukan hanya sekadar pergantian tahun, tetapi juga memiliki dimensi filosofis yang mendalam, mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Baca Juga: Cinta Bersemi Di Masterchef Indonesia, Zahra Dan Fajar Season 12 Resmi Menikah!

Malam ini sering diisi dengan ritual seperti meditasi, tirakat (laku prihatin), dan berbagai upacara adat untuk menghormati leluhur serta memohon keberkahan untuk tahun yang akan datang.

Secara historis, malam Satu Suro memiliki akar dalam perjalanan budaya dan keagamaan masyarakat Jawa, khususnya sejak zaman Kerajaan Mataram Islam. Sultan Agung, raja Mataram pada abad ke-17, memainkan peran penting dalam menetapkan kalender Jawa yang menggabungkan sistem penanggalan Islam dan Jawa.

Baca Juga: Shafeea Ahmad Disebut Mirip Almira Yudhoyono, Tissa Biani : Shafeea Lebih Cantik

Malam Satu Suro menjadi simbol perpaduan budaya Hindu-Buddha dan Islam, mencerminkan sikap sinkretisme yang khas dalam tradisi Jawa.

Sultan Agung memandang malam ini sebagai waktu untuk merenung, memperkuat hubungan dengan Tuhan, dan memperbarui komitmen terhadap nilai-nilai luhur.

Baca Juga: Reshuffle Besar-besaran di Tubuh Polri Jelang HUT Bhayangkara ke-79! 3 Polwan jadi Kapolres, Siapa saja?

Dari sisi filosofis, malam Satu Suro melambangkan konsep “sangkan paraning dumadi,” yaitu asal-usul dan tujuan kehidupan manusia. Masyarakat Jawa mempercayai bahwa malam ini adalah saat yang tepat untuk introspeksi, mengevaluasi perbuatan di masa lalu, dan menetapkan niat baik untuk masa depan.

Malam Satu Suro juga dianggap sebagai waktu ketika dunia gaib dan dunia nyata memiliki batas yang tipis, sehingga banyak orang melakukan ritual seperti jamasan (pencucian pusaka) atau ziarah ke makam leluhur untuk menghormati roh-roh yang telah tiada. Filosofi ini menekankan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam semesta.

Baca Juga: Skandal LNG Pertamina! KPK Dalami Peran Eks Komisaris dan Pejabat Tinggi yang Rugikan Negara hingga Ratusan Miliar

Dalam praktiknya, malam Satu Suro dirayakan dengan berbagai tradisi yang berbeda di setiap daerah di Jawa. Di Yogyakarta dan Surakarta, misalnya, keraton mengadakan upacara kirab pusaka, di mana benda-benda pusaka kerajaan dikeluarkan dan diarak sebagai simbol keberkahan dan perlindungan.

Di tempat lain, masyarakat melakukan laku prihatin seperti puasa atau meditasi di tempat-tempat suci, seperti gunung atau makam keramat.

Halaman:

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X