“Kami terbuka untuk menyesuaikan kebijakan ini. Tarif bisa naik atau turun, tergantung pada bagaimana hubungan dagang kita ke depannya,” ujarnya.
Baca Juga: Gegara Terbakar Cemburu, Polisi NTB Brigadir Nurhadi Tewas Dibunuh Atasannya
Pernyataan ini seolah jadi sinyal bahwa masih ada ruang untuk diplomasi. Namun, tawaran ini juga memunculkan pertanyaan: apakah Indonesia harus mengorbankan kepentingan nasional demi menghindari dampak tarif yang lebih besar? Bagi pelaku industri, tawaran negosiasi ini seperti oase di tengah gurun, tapi tetap penuh risiko.
Baca Juga: Presiden RI Prabowo Subianto Dapat Sambutan Khusus di Debut KTT BRICS
Di Indonesia, kebijakan ini langsung memicu reaksi beragam. Pelaku usaha di sektor tekstil dan alas kaki, misalnya, khawatir ekspor mereka bakal terpukul keras karena harga produk jadi kurang kompetitif di pasar AS.
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan potensi penurunan ekspor hingga 20 persen jika tarif ini berlangsung lama.
Baca Juga: Optimisme Pasar, Analis Kompak Rekomendasikan Saham BBRI
Sementara itu, sektor elektronik dan karet juga waswas, mengingat AS adalah salah satu pasar utama mereka. Beberapa asosiasi dagang mendesak pemerintah segera duduk bersama pihak AS untuk mencari solusi yang tidak memicu perang dagang.
“Kita harus cari jalan tengah. Perang tarif hanya akan rugikan semua pihak,” kata seorang perwakilan dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Baca Juga: Kashmir dalam Api: Sejarah Panjang Konflik India dan Pakistan
Pemerintah Indonesia sendiri masih berhati-hati dalam merespons. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Istana soal langkah konkret menyikapi kebijakan Trump.
Namun, sumber dari Kementerian Perdagangan menyebut bahwa tim khusus sudah dibentuk untuk mengkaji dampak tarif ini. Kementerian Luar Negeri juga dikabarkan tengah menyiapkan strategi diplomasi untuk menjaga hubungan dagang yang selama ini cukup harmonis dengan AS.
Baca Juga: BRIvolution Tahap 1 Resmi Diluncurkan, BRI Tegaskan Komitmen Transformasi
“Kami tidak ingin terburu-buru. Langkah kami harus strategis, tidak hanya menjawab kebijakan ini, tapi juga memastikan hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan,” ujar seorang pejabat senior Kemendag yang enggan disebut namanya.
Situasi ini juga tak lepas dari konteks politik di AS. Dengan Pilpres AS 2026 yang semakin dekat, Trump sepertinya kembali mengusung gaya proteksionisme yang jadi ciri khasnya.