Baca Juga: Cinta Berujung Maut, Pria Racuni Pacar Sesama Jenisnya Pakai Kopi Sianida hingga Tewas
Jenazah Ahmad langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan untuk keperluan otopsi dan identifikasi.
Sementara itu, proses evakuasi bangkai truk yang berserakan di rel sempat membuat perjalanan kereta api terganggu. Arus lalu lintas di sekitar lokasi juga macet hingga beberapa jam.
“Kami langsung koordinasi dengan PT KAI dan Dishub untuk mempercepat evakuasi. Tapi ya, kondisinya memang sulit karena truknya hancur,” kata AKP Slamet, perwira Polres Lamongan yang memimpin olah TKP.
Polisi kini masih menyelidiki penyebab pasti kecelakaan, termasuk kemungkinan kelalaian pengemudi atau faktor lain.
Tragedi ini bukan yang pertama terjadi di perlintasan tanpa palang di Lamongan. Data dari Dinas Perhubungan setempat menyebutkan, setidaknya ada lima kecelakaan serupa di wilayah ini dalam tiga tahun terakhir, dengan korban jiwa mencapai tujuh orang.
Warga Karanglangit pun mengaku resah dengan kondisi perlintasan yang tak kunjung diperbaiki.
Baca Juga: Empat Pulau Jadi Milik Aceh Singkil, Prabowo Turun Tangan Akhiri Kisruh Batas Wilayah
“Kami sudah sering minta ke pemerintah supaya dipasang palang atau minimal ada petugas jaga. Tapi sampai sekarang nggak ada tindakan,” keluh Suyono.
Mereka berharap pemerintah daerah dan PT KAI segera bertindak sebelum nyawa lain melayang sia-sia.
Kecelakaan ini kembali menyentil soal urgensi sistem pengamanan di perlintasan kereta api, terutama di daerah dengan aktivitas warga yang padat. Selain palang pintu, pemasangan rambu peringatan, sirine, atau petugas jaga dinilai bisa meminimalisir risiko.
“Kalau cuma ngandelin kesadaran pengendara, ya susah. Harus ada solusi konkret dari pemerintah,” tegas Marni.
Kisah pilu Ahmad menjadi pengingat bahwa keselamatan di perlintasan kereta bukan cuma tanggung jawab pengemudi, tapi juga butuh perhatian serius dari semua pihak agar duka seperti ini tak lagi terulang.