INSIBERNEWS - Tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengalami penurunan paling signifikan sejak ia kembali menempati Gedung Putih.
Hasil survei nasional yang dilakukan oleh Reuters/Ipsos dan berakhir pada Senin (21/4/2025) menunjukkan bahwa hanya 42% warga yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump—angka terendah sejak pelantikannya Januari lalu.
Penurunan ini menjadi sinyal bahwa langkah-langkah awal kepemimpinannya menuai reaksi keras dari sebagian besar masyarakat Amerika.
Baca Juga: Skor SPI Pendidikan Masih Jauh dari Ideal, KPK Beberkan Tiga Solusi Kunci
Angka ini menunjukkan tren menurun dari survei serupa yang dilakukan tiga minggu sebelumnya, di mana tingkat persetujuan mencapai 43%.
Bahkan, ketika Trump baru saja dilantik untuk masa jabatan keduanya pada 20 Januari lalu, dukungan sempat menyentuh angka 47%. Turunnya kepercayaan publik ini diyakini berkaitan erat dengan kebijakan-kebijakan agresif yang ditempuh Trump dalam beberapa bulan pertama masa jabatannya, termasuk sejumlah keputusan kontroversial yang memperluas kendalinya atas institusi negara maupun sektor swasta.
Baca Juga: Terungkap di Sidang, Hasto Diduga Biayai 'Jalan Pintas' Harun Masiku ke DPR
Sejak kembali menjabat, Trump telah menandatangani puluhan perintah eksekutif yang menurut pengamat dianggap memperkuat cengkeramannya di berbagai lini pemerintahan.
Mulai dari intervensi terhadap universitas-universitas yang dianggap terlalu liberal hingga penunjukan dirinya sendiri sebagai ketua dewan di Kennedy Center—lembaga budaya ternama di Washington—langkah-langkah tersebut memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat sipil dan akademisi.
Banyak pihak menilai pendekatannya terlalu sentralistik dan mengikis prinsip check and balance dalam pemerintahan demokratis.
Baca Juga: Prabowo Subianto Terbangkan Drone Tebar Benih Padi di Palembang
Meski demikian, tingkat persetujuan terhadap Trump masih tergolong lebih tinggi dibanding sebagian besar masa jabatan presiden sebelumnya dari Partai Demokrat.
Namun, mayoritas warga tampaknya mulai menunjukkan ketidaksenangan terhadap gaya kepemimpinan yang dianggap terlalu dominan dan kurang terbuka terhadap kritik.