INSIBERNEWS - Kepergian Paus Fransiskus menjadi sorotan dunia, karena peran pentingnya sebagai pemimpin spiritual bagi lebih dari satu miliar umat Katolik.
Pemakaman seorang Paus bukan sekadar prosesi duka, melainkan sebuah
rangkaian tradisi suci yang penuh simbol dan nilai historis.
Berbeda dari pemakaman tokoh pada umumnya, pemakaman seorang Paus melibatkan berbagai ritual mendalam, yang mengakar dalam sejarah panjang Gereja Katolik.
Baca Juga: Vaksin Polio Diblokir, 600 Ribu Anak Gaza Terancam Lumpuh di Tengah Perang dan Krisis Kemanusiaan
Adapun salah satu tradisi paling mencolok dan sering kali menimbulkan rasa penasaran adalah penggunaan tiga lapis peti mati.
Setelah seorang Paus wafat, Gereja Katolik memasuki periode yang disebut sede vacante—masa kekosongan takhta suci. Dalam waktu yang sangat singkat, berbagai langkah protokoler langsung dilaksanakan.
Camerlengo Gereja Roma Suci, yang saat ini dijabat oleh Kardinal Kevin Farrell, memiliki peran penting dalam mengonfirmasi kematian sang Paus secara resmi.
Baca Juga: Prabowo Tunjuk Jokowi dan Sejumlah Tokoh Hadiri Pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan
Sesuai tradisi kuno, Camerlengo memanggil nama baptis Paus sebanyak tiga kali.
Apabila Paus tidak merespon, ia dengan khidmat menyatakan, “Paus benar-benar telah tiada.” Setelah pengesahan wafat, satu tindakan simbolis dilakukan penghancuran Cincin Nelayan.
Merupakan lambang otoritas kepausan, kehancuran cincin ini menandai berakhirnya masa jabatan sang Paus sekaligus mencegah penyalahgunaan segel resmi oleh pihak lain.
Baca Juga: Drama ‘A Shop For Killers’ Dikonfirmasi Akan Kembali di Season 2, Dijadwalkan Tayang pada 2026
Setelah konfirmasi kematian, Vatikan segera mengirim pemberitahuan ke seluruh pemimpin Gereja Katolik global.
Kemudian masa berkabung resmi pun dimulai. Dikenal sebagai Novemdiales, masa ini berlangsung selama sembilan hari penuh dan diisi dengan misa-misa khusus yang ditujukan untuk mengenang dan mendoakan jiwa Paus.