news

Perang Dagang AS-China Memanas Lalu Melunak: Trump Naik-Turunkan Tarif Hingga 125 Persen, Ada Apa di Baliknya?

Jumat, 11 April 2025 | 14:18 WIB
Donald Trump dan Xi Jinping (Photo : istimewa)

INSIBERNEWS - Drama perang dagang Amerika Serikat dan China kembali jadi sorotan. Tapi kali ini, ada perubahan nada dari Presiden AS Donald Trump yang mulai terdengar lebih adem.

Dalam rapat kabinet belum lama ini, Trump menyatakan keinginannya untuk bisa mencapai kesepakatan dengan China, negara yang selama ini ia tuding “menipu” AS dalam perdagangan global.

"Sulit dipercaya bagaimana orang-orang bisa membiarkannya terjadi," ucap Trump saat bicara soal defisit perdagangan antara AS dan China yang sudah berlangsung lama.

Pernyataan itu disampaikan lewat kanal YouTube Fox News pada Jumat (11/4), dan jadi tanda bahwa sikap keras Trump mulai mencair.

 Baca Juga: Donald Trump Tunda Tarif Impor ke 75 Negara, Tapi China Kena Kenaikan Ekstra

Awal Mula: Tarif Dibuka, Perang Dimulai

Kalau mundur sedikit ke belakang, perang tarif ini sudah dimulai sejak awal Trump menjabat sebagai presiden. Ia langsung meneken kebijakan tarif impor 20 persen untuk barang-barang dari China.

Nggak sampai di situ, tarif tersebut naik lagi jadi 34 persen pada Rabu (3/4), barengan dengan penerapan tarif ke banyak negara lain, termasuk Indonesia.

China? Nggak tinggal diam. Negeri Tirai Bambu itu membalas dengan langkah yang sama: tarif 34 persen ke produk-produk AS. Trump tentu nggak mau kalah.

Ia menaikkan lagi tarifnya menjadi 50 persen. Tapi sekali lagi, China juga tak mundur selangkah pun—tarif langsung dibalas 84 persen. Adu kuat pun terjadi.

 Baca Juga: Trump Umumkan Tarif Impor Baru, Indonesia Kena Imbas Pajak 32 Persen

Puncaknya: China Dikenai Tarif 125 Persen

Situasi makin panas ketika Trump mengumumkan penundaan perang tarif ke 75 negara lain pada Rabu (8/4). Tapi anehnya, untuk China malah dibalik: tarifnya justru dinaikkan jadi 125 persen.

Alasannya? Trump bilang China curang dan terlalu lama mengambil keuntungan sepihak dari perdagangan dengan AS.

Halaman:

Tags

Terkini