INSIBERNEWS - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyatakan keterkejutannya atas serangan udara besar-besaran yang dilakukan Israel di Gaza baru-baru ini.
Serangan tersebut menewaskan ratusan warga Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan, sehingga meningkatkan urgensi seruan internasional untuk gencatan senjata.
Baca Juga: AS dan Israel Bahas Pemindahan Warga Gaza ke Afrika, Namun Ditolak Negara-Negara Terkait
Melalui pernyataan yang disampaikan oleh Wakil Juru Bicara PBB, Farhan Haq, Guterres mendesak penghentian segera kekerasan, pemulihan penuh akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, serta pembebasan para tawanan yang masih ditahan. Ia menegaskan bahwa situasi di Gaza semakin memburuk dan membutuhkan respons cepat dari komunitas internasional.
Baca Juga: Israel Ancam Putus Pasokan Listrik ke Gaza di Tengah Negosiasi Gencatan Senjata
Pemerintah setempat di Gaza melaporkan bahwa pada Selasa (18/3/2025), lebih dari 322 warga Palestina tewas atau hilang hanya dalam waktu lima jam akibat serangan udara Israel.
Serangan tersebut terjadi meskipun sebelumnya telah ada kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hamas sejak 19 Januari 2025. Namun, di tengah bulan suci Ramadan, Israel tiba-tiba meluncurkan kembali operasi militer berskala besar.
Baca Juga: Negara-Negara Arab Sepakat Bangun Kembali Gaza, Tolak Usulan AS Soal Relokasi Warga
Sejak eskalasi konflik pada Oktober 2023, lebih dari 48.500 warga Palestina telah kehilangan nyawa, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Gaza kini hampir luluh lantak, dengan ribuan bangunan hancur dan jutaan penduduk kehilangan tempat tinggal.
Situasi ini diperparah dengan perintah evakuasi yang dikeluarkan oleh militer Israel, memaksa warga sipil meninggalkan beberapa wilayah di Gaza utara dan selatan, yang disebut sebagai "zona pertempuran berbahaya."
Baca Juga: Israel Siap Lanjutkan Serangan ke Gaza Jika Gencatan Senjata Gagal Diperpanjang
Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, menyatakan bahwa warga Palestina harus segera meninggalkan kota Beit Hanoun di utara serta Khuza’a dan Abasan di selatan.
Sementara itu, tekanan internasional terus meningkat agar kedua belah pihak menghentikan serangan dan kembali ke meja perundingan demi menghindari lebih banyak korban jiwa.