INSIBERNEWS - Ketegangan antara Israel dan Hamas semakin meningkat setelah Israel mengancam akan menghentikan pasokan listrik ke Gaza. Ancaman ini muncul di tengah perundingan terkait persyaratan gencatan senjata baru, yang masih menemui jalan buntu.
Langkah ini dilakukan hanya seminggu setelah Israel memblokir masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk makanan, obat-obatan, dan bahan bakar, ke wilayah kantong berpenduduk lebih dari dua juta orang tersebut.
Baca Juga: Negara-Negara Arab Sepakat Bangun Kembali Gaza, Tolak Usulan AS Soal Relokasi Warga
Menurut laporan The Independent, Menteri Energi Israel telah mengeluarkan perintah resmi kepada Israel Electric Corporation untuk menghentikan penjualan listrik ke Gaza.
Dampak penuh dari keputusan ini masih belum jelas, tetapi fasilitas penting seperti pabrik desalinasi, yang memasok air minum bagi warga Gaza, sangat bergantung pada listrik yang dipasok dari Israel.
Jika ancaman ini benar-benar direalisasikan, situasi kemanusiaan di Gaza akan semakin memburuk.
Baca Juga: Israel Siap Lanjutkan Serangan ke Gaza Jika Gencatan Senjata Gagal Diperpanjang
Israel berdalih bahwa tindakan ini bertujuan menekan Hamas agar menerima proposal gencatan senjata baru. Sementara itu, Hamas menuduh Israel sengaja menggagalkan perundingan damai dengan menggunakan taktik yang mereka sebut sebagai "pemerasan politik".
Hamas mengecam kebijakan Israel yang menghentikan bantuan dan mengancam pemutusan total pasokan air dan listrik sebagai tindakan "kejahatan perang dan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata".
Baca Juga: Indonesia Akan Salurkan Bantuan Rp3,2 Triliun untuk Rekonstruksi di Gaza
Di sisi lain, Israel mengajukan syarat agar Hamas membebaskan setengah dari sandera yang masih tersisa sebagai imbalan atas janji untuk membahas gencatan senjata yang lebih permanen.
Namun, Hamas bersikeras agar negosiasi langsung masuk ke fase kedua, yang mencakup pembebasan semua sandera, penarikan pasukan Israel dari Gaza, serta perundingan untuk perdamaian jangka panjang.
Saat ini, Hamas diyakini masih menahan 24 sandera hidup dan menyimpan jenazah 35 orang lainnya.
Artikel Terkait
Presiden AS Donald Trump Ingin Pastikan Hamas Tidak Akan Bisa Kembali ke Gaza
Trump Sebut Ingin Beli Gaza, Berencana Rekonstruksi Kawasan
Erdogan Tuntut Israel Tanggung Biaya Rekonstruksi Gaza, Nilainya Capai Rp1.600 Triliun
Raja Yordania Abdullah II Tolak Usulan Relokasi Warga Gaza, Ingin Kompromi dengan Trump Soal Masyarakat Palestina
Korea Utara Sentil Trump: Rencana Kuasai Gaza Itu Hal Konyol!
Trump-Netanyahu Berisiko Hancurkan Perjanjian Perdamaian Gaza
Rencana Trump Soal Gaza Dikecam Keras, Kelompok Palestina: Ini Deklarasi Perang!
Trump Usulkan Pengusiran Warga Palestina dari Gaza, Yordania Siap Ambil Tindakan Tegas, Mesir Tolak Rencana AS
Arab Saudi Setuju Gagasan Trump Soal 'Riviera Gaza', Tapi Tidak Dengan Pemindahan Warganya!
Netanyahu Blokir Bantuan Rumah Mobil dan Alat Berat ke Gaza, Proses Pemulihan Tertunda