INSIBERNEWS - Penurunan permukaan tanah menjadi salah satu penyebab utama banjir rob yang kerap melanda pesisir Jakarta. Kondisi ini membuat permukaan laut tampak lebih tinggi dari daratan, memicu banjir yang semakin sulit dikendalikan.
Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta, Ika Agustin, pada Selasa (17/12/2024).
Baca Juga: Indonesia dan AS Kolaborasi Kembangkan Teknologi Digital untuk Pertanian Berkelanjutan
Menurut Ika, salah satu solusi untuk mengurangi dampak penurunan permukaan tanah adalah dengan beralih dari penggunaan air tanah ke jaringan air bersih milik Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya.
"Kami sangat menganjurkan warga, terutama yang tinggal di pesisir, untuk memanfaatkan jaringan air PAM. Ini dapat mengurangi ketergantungan pada air tanah yang justru mempercepat penurunan tanah," ujarnya di Balai Kota Jakarta.
Baca Juga: 16 Juta Warga Akan Terima Bantuan Beras di Awal 2025, Fokus pada Keluarga Miskin
Ika menjelaskan bahwa penggunaan air tanah secara berlebihan, terutama di wilayah pesisir, menjadi faktor utama yang mempercepat proses penurunan tanah.
Kondisi ini diperparah dengan masifnya pengambilan air tanah untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri, sehingga tanah kehilangan daya dukungnya.
Baca Juga: Di Tengah Cadangan Minyak Melimpah: Iran Hadapi Pemadaman Listrik dan Penutupan Sekolah
Jika dibiarkan, dampaknya akan semakin parah, tidak hanya meningkatkan frekuensi banjir rob, tetapi juga mengancam infrastruktur dan kehidupan warga.
Selain itu, ia juga menegaskan pentingnya kesadaran kolektif dalam mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh eksploitasi air tanah.
Baca Juga: Sambut Nataru, Kantor SAR Bandung Siap Laksanakan Siaga SAR, Berikut Ini Daftar Lokasinya
Dengan beralih ke jaringan air bersih, bukan hanya membantu menjaga kestabilan tanah, tetapi juga mendukung upaya pemerintah dalam menciptakan kota yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.
"Ini adalah tanggung jawab bersama. Dengan langkah kecil seperti ini, kita bisa mencegah kerusakan yang lebih besar di masa depan," imbuhnya.
Artikel Terkait
Tak Perlu Khawatir Selama Nataru, Layanan Keuangan Bakal Dioptimalkan BRI Melalui 1 Juta AgenBRILink
Fuji Diduga Bikin Konten Parodikan Agus Salim, Farhat Abbas Kemungkinan Akan Laporkan Adik Fadly Faisal
Sebelum Viral, Dwi Ayu Korban Kekerasan Anak Bos Roti Sempat Ditolak 2 Polsek Dan Dikirim Pengacara Dari Pelaku
Mengintip Serunya BRI CoreLab di UIN Raden Fatah Palembang, CEO Promedia Ungkap Perjalanan 17 Tahun Kariernya Jadi Jurnalis!
Program Sekolah Penggerak, Disdik Dukung Giat Panen Karya 2024 SMP Negeri 3 Purwakarta
Sambut Nataru, Kantor SAR Bandung Siap Laksanakan Siaga SAR, Berikut Ini Daftar Lokasinya
Di Tengah Cadangan Minyak Melimpah: Iran Hadapi Pemadaman Listrik dan Penutupan Sekolah
Honda dan Nissan Jajaki Merger untuk Hadapi Persaingan Ketat di Industri Mobil Listrik
16 Juta Warga Akan Terima Bantuan Beras di Awal 2025, Fokus pada Keluarga Miskin
Indonesia dan AS Kolaborasi Kembangkan Teknologi Digital untuk Pertanian Berkelanjutan