Tak Hanya Cari Untung, Crazy Rich Surabaya Ini Sebut Hal yang Harus Jadi Targetnya dalam Berbisnis

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Rabu, 6 November 2024 | 08:15 WIB
Potret Pengusaha Kaya Asal Surabaya, Hermanto Tanoko. Yuk intip kisah inspiratifnya. (Instagram.com/@htanoko)
Potret Pengusaha Kaya Asal Surabaya, Hermanto Tanoko. Yuk intip kisah inspiratifnya. (Instagram.com/@htanoko)

Dalam kesempatan yang sama, Helmy Yahya mengaku takjub dengan latar belakang ekonomi keluarga Tanoko yang tergolong kurang mampu.

Terlebih, keterbatasan dalam ekonominya itu tidak menyurutkan semangat Tanoko untuk belajar bisnis sedari dini.

Pengusaha asal Surabaya itu bercerita pengalaman masa kecilnya yang tidak mampu membeli kelereng atau mainan berbentuk bulat kristal untuk bermain bersama teman-teman.

“Dulu saya hidup susah, saya bermain saja waktu main kelereng itu, gundu, saya enggak bisa beli, melihat teman-teman bawa kelereng banyak, kala itu saya mau juga. Cuman ya enggak bisa, enggak mampu,” terang Tanoko.

Kemudian, sang ibu mengajak Tanoko kecil yang kala itu berusia 5 tahun untuk membeli tepung terigu yang saat itu harganya sedang naik. Memahami maksud sang ibunda, saat itu Tanoko kecil mengerti tentang mencari uang itu tidak mudah dan masih banyak orang yang lebih susah darinya.

Baca Juga: Gerak Cepat Tanggap Bencana Alam, BRI Peduli Bantu Korban Terdampak Erupsi Gunung Lewotobi Laki Laki

“Minta beli biskuit, beli minyak goreng. Lama-lama saya mengerti kalau berbisnis itu keuntungannya bagaimana, cari uang itu enggak mudah,” ujarnya.

Berkaca dari momentum itu, Tanoko dewasa terbiasa membangun mindset seorang pengusaha yang tidak hanya mencari keuntungan, melainkan juga harus diimbangi dengan bersedekah.

Belajar Ilmu Kerja Keras dari Orang Tuanya

Tanoko menjelaskan tentang cara orang tuanya mendidiknya menjadi pribadi yang mau bekerja keras untuk mencapai kesuksesan.

Momen yang masih teringat olehnya adalah ketika kedua orang tuanya masih belum memperoleh kewarganegaraan Indonesia alias masih WNA, pada tahun 1960 silam.

Pada masa itu, orang tua Tanoko berusaha keras untuk menghidupi keluarganya dengan berjualan barang-barang bekas dan mengayuh sepeda dari Singosari untuk menjual hasil bumi ke Kota Malang, Jawa Timur.

“Kala itu tidak bisa berdagang, akhirnya hidup terlunta-lunta selama beberapa tahun. Tapi ayah saya orangnya luar biasa sekali, pekerja keras,” tegas Tanoko.

Baca Juga: Gak Boleh Lama-lama! Bandara di Selandia Baru Batasi Waktu Pelukan

Tanoko menilai kedua orang tuanya adalah pribadi pekerja keras karena tak sekalipun mengeluh meski bisnisnya terhambat karena belum ada izin sebagai warga negara Indonesia.

Halaman:

Editor: Cristina Jeany Malonda

Sumber: YouTube Helmy Yahya, Forbes

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X