Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga barang input serta prospek usaha yang tidak seoptimis kuartal sebelumnya. Persediaan barang jadi masih meningkat, dengan laju yang tidak sepesat kuartal sebelumnya, sejalan dengan menurunnya produksi.
Kegiatan investasi juga melambat, karena keterbatasan dana yang sebagian terserap oleh naiknya harga barang input.
Dilihat secara sektoral, ekspansi bisnis UMKM pada Q3-2024 sebagian besar mengalami perlambatan. Beberapa sektor usaha, seperti: sektor pertanian serta sektor hotel dan restoran, bahkan menunjukkan kontraksi.
Aktivitas sektor pertanian mengalami penurunan menyusul pasca panen raya tanaman pangan pada Q2-2024 dan musim kemarau yang cukup kering di sejumlah daerah.
Sektor hotel dan restoran juga mengalami kontraksi pasca HBKN dan libur sekolah pada kuartal sebelumnya, yang membuat permintaan terhadap jasa akomodasi menurun signifikan.
Sementara itu, sektor pertambangan masih ekspansi sejalan dengan musim kemarau yang kondusif bagi sektor ini, terutama penambangan pasir untuk kegiatan konstruksi dan permintaan air bersih.
Ekspansi pada sektor industri, perdagangan dan pengangkutan terutama ditopang oleh kenaikan rata-rata harga jual dan permintaan yang masih relatif kuat, setelah aktivitas kerja dan sekolah kembali normal pasca HBKN.
Baca Juga: Ampuh Redakan Demam, Begini Cara Pakai Daun Beluntas di Rumah, Yuk Disimak!
Namun ekspansi aktivitas sektor-sektor tersebut melambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Kenaikan aktivitas sektor jasa-jasa sejalan dengan banyaknya pesta seperti pernikahan dan peningkatan kegiatan partai politik jelang Pilkada.
Indeks Bisnis tertinggi terjadi pada sektor konstruksi (indeks terkait 116,3) yang ditopang oleh meningkatnya aktivitas proyek-proyek pemerintah dan swasta menjelang akhir tahun serta cuaca yang kondusif.
Pada Q4-2024, pebisnis UMKM tetap yakin akan ekspansi usahanya ke depan, tercermin pada Indeks Ekspektasi Bisnis UMKM sebesar 122,3.
Namun dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, level Indeks Ekspektasi Bisnis Q3-2024 mengalami penurunan, yang memberikan sinyal laju kenaikan aktivitas usaha yang lebih moderat.
Penurunan optimisme ini terutama karena melemahnya daya beli masyarakat, persaingan yang semakin ketat, serta awal musim tanam tanaman pangan.
Artikel Terkait
Pemkab Purwakarta Menggelar Vidcon Rakor Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2024, Ini Poin yang Dibahas
Dicurigai Tidak Jujur Dalam LHKPN, Dirdik Jampidsus Abdul Qohar Bantah Miliki Jam Tangan Mewah
Akun TikTok Sadbor Menghilang, Padahal Biasa Hasilkan Rp120 Juta dalam Satu Bulan
Tekad Bulat! Presiden Prabowo Ingin Bentuk Pemerintah Indonesia yang Bersih
Wujudkan Pilkada 2024 Aman, Polsek Kotabaru Gelar Giat Silaturahmi Kamtibmas Bersama Ormas GSI
Jelang Debat Perdana Pilkada Purwakarta 2024, Paslon ZeinJo Paling Siap Ikuti Debat Paparkan Visi Misi Purwakarta Istimewa
Ramai Soal Perselingkuhan Suami Selebgram Arie Rieyanthie, Berikut 3 Kasus Serupa yang Bikin Geleng Kepala!
Mengurangi Dampak Buruk dari Emisi Gas Rumah Kaca, Berikut 5 Fakta Unik Tentang Sumber Energi Terbarukan
Sering Disangka Milik Orang Jepang, Inilah Sosok di Balik Kesuksesan HokBen Resto yang Melegenda di Indonesia Sejak Tahun 1985
Jelang Lawan Jepang Ini Pemain yang Diwaspadai Shin Tae-yong, Intip 5 Pesepak Bola Asal Negeri Sakura yang Main di Premier League