Langit Palembang Kembali Mengabu, Warga Frustrasi Pertanyakan Janji Manis Modifikasi Cuaca

Photo Author
- Kamis, 22 Oktober 2026 | 14:57 WIB
Kondisi kabut asap pekat kembali terjadi di Palembang, Sumsel. (Threads/ggcempaka)
Kondisi kabut asap pekat kembali terjadi di Palembang, Sumsel. (Threads/ggcempaka)
INSIBERNEWS - Bencana kabut asap pekat sisa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mencekik warga Kota Palembang pada Kamis (22/10/2026).
 
Pemandangan langit yang mengabu dan udara beracun ini sontak memicu gelombang frustrasi dari masyarakat yang merasa upaya penanggulangan dari pemerintah belum membuahkan hasil nyata.

Jagat media sosial pun seketika dibanjiri keluhan serta bukti visual betapa parahnya polusi udara yang mengepung ibu kota Sumatera Selatan tersebut. Warga tak lagi bisa menyembunyikan amarahnya melihat kota mereka berubah menjadi ruangan berasap raksasa yang mengancam kesehatan pernapasan.
 

"Salah satu pagi terburuk di Kota Palembang. Sampai kapan bapak-bapak para pemimpin yang terhormat paru-paru kami dipaksa jadi cerobong asap?"

Dalam unggahan yang sama, pemilik akun Threads @ggcempaka tersebut membagikan video mencekam yang merekam jarak pandang di jalan raya turun drastis.
 
Tangkapan layar indeks kualitas udara (AQI) pada pukul 06.00 WIB juga memperlihatkan angka fantastis menembus 1.115, sebuah rekor yang mengkategorikan udara Palembang berada dalam level sangat berbahaya bagi manusia.

"Lihat, enggak ada yang kelihatan. Jangankan hotel yang di ujung sana, apotek pun enggak kelihatan. Palembang nih, ini yang katanya berhasil modifikasi cuaca? Cuaca yang seperti apa? Udah enggak tahu lagi mau ngomong apa."
 

Jeritan serupa juga disuarakan oleh netizen lain melalui akun Threads @helloitsjan yang memohon pertolongan karena telah tiga bulan menderita akibat karhutla.
 
Kondisi memprihatinkan ini seolah menjadi tamparan keras bagi program Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digembar-gemborkan oleh pemerintah pusat.

Padahal, sejak 15 hingga 19 Oktober lalu, petugas telah menyemai total 8,8 ton es kering (dry ice) dalam 11 penerbangan, ditambah taburan 800 kilogram natrium klorida (NaCl).
 
Meskipun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berjanji akan terus mengevaluasi metode ini, realita di lapangan membuktikan bahwa warga Palembang masih harus berjuang keras melawan kepungan asap beracun.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X