Tragedi Uang Setoran Berujung Petaka, Sopir Truk di Bali Kritis Dibakar Bos Sendiri

Photo Author
- Rabu, 23 September 2026 | 14:06 WIB
Menyoroti viralnya kisah pilu sopir truk di Bali yang mengalami kritis usai diduga alami insiden pembakaran oleh bosnya sendiri. Begini kronologinya. (Instagram.com/@denpasar.viral)
Menyoroti viralnya kisah pilu sopir truk di Bali yang mengalami kritis usai diduga alami insiden pembakaran oleh bosnya sendiri. Begini kronologinya. (Instagram.com/@denpasar.viral)
INSIBERNEWS - Sebuah tragedi memilukan mengguncang warga Kabupaten Karangasem, Bali, setelah seorang pemuda berinisial GS (21) yang berprofesi sebagai sopir truk dibakar hidup-hidup oleh bosnya sendiri, I Putu CP (37).
 
Peristiwa sadis ini meledak di kediaman korban di Desa Muncan, Kecamatan Selat, pada Jumat (18/9/2026).
 
Petaka tersebut bermula dari adu urat saraf perihal nominal uang setoran kerja yang dinilai tak sesuai, hingga memicu luapan amarah pelaku yang langsung gelap mata menyulutkan api ke sekujur tubuh korban.
 

Hanya berselang beberapa jam usai insiden nahas tersebut, aparat kepolisian bergerak cepat meringkus I Putu CP dan menggiringnya ke balik jeruji besi.
 
Terduga pelaku kini harus menghadapi bayang-bayang ancaman hukuman maksimal tujuh tahun penjara usai penyidik menjeratnya dengan Pasal 467 ayat (2) subsider Pasal 466 ayat (2) KUHP tentang tindak pidana penganiayaan berencana yang mengakibatkan korban menderita luka berat.

"Pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan dua alat bukti dan sudah dilakukan penahanan di rutan Polres Karangasem," tegas Kasi Humas Polres Karangasem, Ipda I Nengah Artono, saat memberikan keterangan resmi di hadapan awak media pada Senin (21/9/2026).

Sementara sang bos ditahan pihak berwajib, penderitaan berat justru harus ditanggung oleh GS yang kini terbaring tak sadarkan diri di Ruang ICU Burns Unit RSUP Prof Ngoerah, Denpasar.
 
 
Tim medis menyebut kondisi korban sangat memprihatinkan dengan luka bakar parah derajat 2B hingga 3 yang membakar area dada hingga melingkar ke punggung, serta harus dipasangi ventilator akibat adanya indikasi trauma inhalasi atau masuknya sisa jelaga ke dalam paru-paru.

"Luka bakar di atas 40 persen ditambah adanya trauma inhalasi memiliki risiko kematian 300 kali lipat lebih tinggi secara teori. Pasien mungkin membutuhkan 10 hingga 12 kali tindakan operasi jika berhasil melewati masa kritis 14 hari pertama," papar dokter spesialis bedah plastik, dr. Agus Roy Rusly Hariantana Hamid, membeberkan kondisi korban pada Selasa (22/9/2026).

Kondisi kritis pemuda ini kian diperparah dengan himpitan finansial keluarga yang sangat membebani.
 
Untuk berjuang menyelamatkan nyawa GS, dibutuhkan setidaknya empat hingga lima kali tindakan operasi tahap awal yang masing-masing menelan ongkos sekitar Rp20 juta, dan angka tersebut belum mencakup kebutuhan rawat inap hingga obat-obatan yang sama sekali tidak bisa diklaim menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan.
 

"Warga bersama rekan-rekan korban pun mulai menggalang donasi untuk membantu biaya pengobatan. Namun, hingga kini dana yang terkumpul baru sekitar Rp13 juta. Keluarga meminta bantuan untuk mencarikan solusi pembiayaan karena biaya operasi disebut tidak dapat ditanggung BPJS," bunyi seruan kepedulian yang diunggah oleh akun Instagram @infokarangasem_id pada Rabu (23/9/2026), demi mengetuk pintu hati para dermawan.(*)

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X