INSIBERNEWS - Praktik culas penyelundupan bahan pangan dari luar negeri memicu reaksi keras dari pemerintah. Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menyoroti tajam terbongkarnya modus operandi importasi ilegal komoditas beras dan garam yang berusaha menyusup ke Tanah Air.
Menurutnya, gempuran produk pangan gelap ini bukan sekadar pelanggaran kepabeanan biasa, melainkan ancaman serius yang berpotensi menyabotase upaya negara dalam mewujudkan kemandirian dan swasembada pangan nasional.
"Kalau beras diselundupkan masuk, itu sebenarnya menodai swasembada pangan kita. Swasembada pangan Indonesia itu karena produksi Indonesia sendiri. Kalau masuk yang seperti ini, ini menodai swasembada pangan kita," tegas Suahasil saat memimpin konferensi pers Penindakan Impor Ilegal di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Baca Juga: Amukan Banjir Bandang Solok Lumpuhkan Kantor Bupati, Warga Panik Berlarian Hindari Terjangan Lumpur
Lebih jauh, Suahasil memaparkan bahwa kejahatan ekonomi lintas negara ini secara moral telah mengkhianati jutaan petani lokal.
Saat pemerintah mati-matian meramu kebijakan untuk menggenjot ketahanan pangan, para pahlawan pangan di akar rumput justru harus dihadapkan pada persaingan tidak adil akibat masuknya beras gelap yang merusak stabilitas harga dan produksi domestik.
"Kita bekerja di sisi kebijakan, para petani kita bekerja menanam padi dengan produktivitas yang tinggi, lalu kemudian masuk beras-beras yang ilegal seperti ini. Ini menodai sekali," keluh Suahasil menyayangkan mentalitas para mafia penyelundup tersebut.
Kegeraman sang menteri bermula dari gebrakan berani Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Jawa Timur I yang sukses mencegat belasan peti kemas mencurigakan.
Berdasarkan manifes dokumen yang diajukan oleh sebuah perusahaan importir pada 11 Agustus 2026, 15 kontainer asal India tersebut awalnya dilaporkan berisi 8.250 karung senyawa kimia amonium klorida dengan berat total menyentuh 413,4 ton.
Namun, ketajaman insting intelijen kepabeanan di lapangan berhasil mengendus adanya kejanggalan fatal pada manifes tersebut.
Saat segel peti kemas dibongkar paksa untuk inspeksi fisik dan sampelnya diuji di laboratorium Surabaya, kepalsuan kargo itu terbongkar seketika lantaran wujudnya adalah murni komoditas pangan yang disamarkan.
"Dengan demikian, 15 kontainer yang dilaporkan berisi amonium klorida tersebut ternyata memuat 202.450 kilogram beras dan sekitar 211 ribu kilogram garam. Nilai keseluruhan barang tersebut diperkirakan mencapai Rp7 miliar," papar Kepala Kanwil DJBC Jawa Timur I, Rusman Hadi, merinci temuan kargo gelap yang nyaris merugikan negara tersebut.***
Artikel Terkait
Houthi Kembali Memanas dengan Arab Saudi, AS Tegaskan Tak Ikut Serang
Aksi Pegawai SPPG Bantul Ejek Korban Keracunan MBG Berujung Pemecatan
Viral Video di Taman Hiburan Malam, Pengurus PWNU Sulsel Bantah Gunakan LC
Penyelam Basarnas Temukan Lagi 1 Korban di Bangkai KM Virgo 8, 122 Orang Masih Dicari
Amukan Banjir Bandang Solok Lumpuhkan Kantor Bupati, Warga Panik Berlarian Hindari Terjangan Lumpur