Jerit Warga di Balik Kebakaran TPS Ilegal Kramat Jati: Laporan JAKI Ditolak hingga Satu Orang Damkar Tewas

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Minggu, 2 Agustus 2026 | 14:16 WIB
Viral keluhan warga saat terjadi kebakaran tumpukan sampah di TPS di Dukuh, Kramat Jati. (Threads/fzh09 - dewinin20)
Viral keluhan warga saat terjadi kebakaran tumpukan sampah di TPS di Dukuh, Kramat Jati. (Threads/fzh09 - dewinin20)

INSIBERNEWS - Insiden kebakaran yang menghanguskan lahan pembuangan sampah di Kelurahan Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Sabtu (1/8/2026), memicu kemarahan publik. Kasus ini menjadi sorotan tajam di platform Threads usai seorang warga membongkar bobroknya penanganan aparat wilayah setempat.

Akun @fzh09 mengungkap fakta mengejutkan bahwa area yang terbakar sejatinya adalah tempat pembuangan sampah (TPS) ilegal di atas lahan rawa milik negara, yang setiap harinya bebas menerima kiriman tiga hingga lima truk puing tanpa pengawasan yang jelas.

Kekecewaan masyarakat sejatinya telah menumpuk sejak lama lantaran berbagai upaya pengaduan selalu menemui jalan buntu. Sang pemilik utas mengaku sudah berulang kali melaporkan keberadaan TPS ilegal tersebut melalui aplikasi resmi JAKI, namun laporannya konsisten ditolak oleh sistem.

Baca Juga: Tersangka Rudapaksa hingga Bikin Hamil Tak Kunjung Ditahan, Ibu Korban di Pekalongan Tagih Ketegasan Polisi!

Bahkan, saat musibah terjadi dan warga berinisiatif patungan menyewa alat berat berupa ekskavator untuk membantu menjinakkan api, niat baik itu terhalang ketiadaan akses masuk, sementara pihak kelurahan justru berbelit-belit beralasan alat berat mereka tak bisa difungsikan.

"Saya disuruh hapus status WhatsApp dan ditelepon sama orang kelurahan. Lucu sekali, setakut itu kah mereka? Bukti semuanya sudah saya screenshot," beber akun @fzh09 menyoroti tindakan intimidatif dari oknum perangkat desa. Alih-alih bersikap sigap memimpin penanganan darurat, aparatur pemerintah di tingkat kelurahan tersebut dituding lebih sibuk menutupi aib agar kabar memalukan soal TPS tak berizin ini tidak semakin meluas ke telinga publik.

Baca Juga: Buntut Skandal TPPU, Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Digeledah Kejagung Usai Terima Limpahan 74 Kg Emas

Di tengah absennya para pejabat mulai dari tingkat RT, RW, hingga Lurah di lokasi titik api, beban penderitaan justru menimpa para pahlawan pemadam kebakaran yang harus bekerja tanpa henti. Cuaca terik dan asap pekat menguras tenaga puluhan petugas yang tak kunjung mendapat dukungan logistik maupun air minum dari pihak pemerintah setempat.

Keadaan memprihatinkan ini langsung memantik simpati warga sekitar yang akhirnya turun tangan merogoh kocek pribadi demi membelikan konsumsi untuk tim penyelamat.

"Komandan pemadam pun ngomong ke saya kalo anak buahnya kehausan kenapa warga ga ada yang kasih air. Langsung saat itu juga saya beli konsumsi untuk mereka. Jangan tanya lurah, RT dan RW-nya kemana," curhat warga tersebut dengan nada jengah. Ketidakhadiran perangkat wilayah di momen krisis seakan menjadi bukti nyata abainya otoritas lokal terhadap keselamatan warganya sekaligus minimnya apresiasi kepada aparat tangguh di garis depan.

Baca Juga: Kecelakaan Maut Tewaskan 2 Orang Di Tol Cipularang, Mobil Pikap Ringsek Parah

Tragedi di tempat pembuangan puing Kramat Jati ini pada akhirnya tak hanya menyisakan kerugian materi dan luka sosial, tetapi juga merenggut nyawa seorang abdi negara. Andriyono, sosok Kepala Regu Kelompok C Sektor Cipayung dari Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur, dipastikan gugur saat menjalankan tugas mulianya.

Ia diketahui tergabung dalam formasi regu beranggotakan 50 personel yang telah berjibaku tanpa kenal lelah sejak pukul 07.11 WIB pagi.

"Dalam pelaksanaan operasi tersebut, almarhum bertugas mencari sumber air sebagai bagian dari dukungan operasi dan tidak berada pada posisi penyerangan atau pemadaman api secara langsung," terang Kepala Dinas Gulkarmat DKI Jakarta, Bayu Megantara. Pahlawan kemanusiaan itu gugur bukan akibat jilatan api, melainkan karena kelelahan ekstrem yang memicu serangan jantung fatal. Sempat mendapat pertolongan pertama dan dilarikan ke RS Harapan Bunda, Andriyono akhirnya menghembuskan napas terakhirnya tepat pada pukul 13.30 WIB.***

Halaman:

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X