Rupiah Melemah ke Rp17,800 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan APBN dan Pasar Tetap Terkendali

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Rabu, 27 Mei 2026 | 16:03 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17,800 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan APBN dan Pasar Tetap Terkendali (Istimewa)
Rupiah Melemah ke Rp17,800 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan APBN dan Pasar Tetap Terkendali (Istimewa)

“Kita sudah mulai melihat ada modal asing yang masuk ke pasar obligasi kita,” katanya.

Ia juga memberi sinyal bahwa pemerintah tengah menyiapkan langkah lanjutan untuk membantu memperkuat rupiah secara lebih signifikan dalam waktu dekat.

Untuk diketahui, kurs rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa (26/5/2026), atau menjelang Hari Raya Idul Adha. Nilai tukar rupiah turun 52 poin atau sekitar 0,29 persen menjadi Rp17.796 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya di level Rp17.744 per dolar AS.

Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang kembali memicu kekhawatiran pelaku pasar.

Baca Juga: Ramai Dugaan Prostitusi Anak di Lokasari, KPAI Desak Pengusutan Tuntas dan Perlindungan Korban

Konflik AS-Iran Disebut Jadi Pemicu Tekanan Rupiah

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah kali ini tidak lepas dari memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama setelah adanya serangan baru Amerika Serikat terhadap Iran.

Menurut Ibrahim, operasi militer terbaru AS menyasar lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di wilayah selatan Iran. Meski militer AS menyebut tindakan itu sebagai langkah pertahanan diri dan mengklaim gencatan senjata tetap berlaku, pasar tetap merespons dengan kewaspadaan tinggi.

Ia menilai setiap eskalasi militer baru berpotensi mengganggu proses negosiasi perdamaian antara AS dan Iran, terlebih setelah Teheran beberapa kali memperingatkan Washington agar tidak melanjutkan serangan.

Baca Juga: Idul Adha di Gaza Penuh Duka, Warga Palestina Sulit Berkurban di Tengah Dampak Perang

Situasi geopolitik yang memanas tersebut mendorong pelaku pasar global mencari aset aman (safe haven), sehingga memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. ***

Halaman:

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X