Di tengah krisis itu, Beijing disebut bergerak cepat menawarkan solusi energi alternatif kepada sejumlah negara. China bahkan dikabarkan menawarkan kerja sama teknologi energi hijau sebagai langkah jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari kawasan konflik.
China Manfaatkan Krisis untuk Perkuat Industri Pertahanan
Selain sektor energi, laporan intelijen AS juga menyebut China memanfaatkan perang Iran untuk memperluas pengaruh di sektor pertahanan.
Mengutip laporan Washington Post, Beijing disebut menjual berbagai sistem persenjataan kepada sejumlah sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia.
Negara-negara tersebut membutuhkan tambahan perlindungan militer untuk menjaga pangkalan dan fasilitas minyak strategis mereka dari ancaman serangan rudal serta drone Iran selama perang berlangsung.
Baca Juga: Ditjenpas Bantah Video Viral Sel Mewah di Lapas Cilegon, Tegaskan Tak Ada Fasilitas Khusus
Kondisi itu dinilai memberi peluang besar bagi China untuk meningkatkan penjualan alat utama sistem persenjataan sekaligus memperkuat hubungan strategis dengan negara-negara Timur Tengah.
Pentagon Khawatir China Pelajari Strategi Tempur AS
Laporan intelijen itu juga menyoroti keuntungan strategis lain yang diperoleh Beijing di bidang militer.
Melalui konflik di Timur Tengah, China disebut dapat mempelajari pola operasi tempur modern Amerika Serikat secara langsung. Beijing dinilai mampu mengamati penggunaan sistem pertahanan udara, strategi serangan militer, distribusi logistik, hingga pola pengerahan persenjataan AS dalam situasi perang nyata.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran di Pentagon karena konflik Iran dinilai tidak hanya menguras sumber daya militer Amerika Serikat, tetapi juga memberi peluang besar bagi China untuk mempercepat penguatan kemampuan strategisnya.
Baca Juga: Satu Pasien Meninggal Usai Kebakaran RSUD Dr Soetomo, Ini Penjelasan Pihak Rumah Sakit
Kekhawatiran semakin meningkat setelah stok sejumlah amunisi penting militer AS dilaporkan mulai menipis akibat tingginya intensitas operasi perang.
Beberapa sistem yang disebut mengalami tekanan stok antara lain rudal Patriot, pencegat THAAD, hingga rudal jelajah Tomahawk.
Pengamat menilai kondisi itu berpotensi memengaruhi kesiapan tempur Amerika Serikat jika sewaktu-waktu menghadapi konflik besar lain, khususnya di kawasan Indo-Pasifik yang kini menjadi pusat persaingan utama antara Washington dan Beijing. ***
Artikel Terkait
Ditjenpas Bantah Video Viral Sel Mewah di Lapas Cilegon, Tegaskan Tak Ada Fasilitas Khusus
WNA Italia Dijambret di Bundaran HI, Polisi Buru Pelaku Bermotor Merah
Satu Pasien Meninggal Usai Kebakaran RSUD Dr Soetomo, Ini Penjelasan Pihak Rumah Sakit
Gerindra Jatuhkan Teguran Keras ke Anggota DPRD Jember Usai Viral Merokok dan Main Game Saat Rapat Stunting
Viral Penumpang Dibongkar karena Kartu Pokemon di Bandara Soetta, Bea Cukai Beri Penjelasan
Usai Sahkan Hukuman Mati Tahanan Palestina, Menhan Israel Blak-blakan Ingin Bangun Permukiman di Lebanon