INSIBERNEWS - Pengalaman kurang menyenangkan dialami oleh seorang penumpang berinisial JS (28) saat menjalani pemeriksaan oleh petugas Bea dan Cukai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta usai tiba dari Guangzhou, China.
Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, 13 Mei 2026, ketika JS dan suaminya baru kembali dari perjalanan liburan. Setelah mengambil bagasi, keduanya menjalani pemeriksaan rutin di area kedatangan internasional.
Namun, JS mengaku diarahkan masuk ke jalur pemeriksaan khusus atau red line. Ia menyebut kopernya sudah diberi tanda sejak proses pengambilan bagasi.
Baca Juga: WNA Italia Dijambret di Bundaran HI, Polisi Buru Pelaku Bermotor Merah
Menurut pengakuannya, petugas meminta seluruh isi koper dibongkar, termasuk koper berukuran besar dan koper kabin yang dibawanya.
“Awalnya yang diperiksa koper besar. Saya diminta mengeluarkan kartu Pokemon dan stiker. Petugas kemudian menanyakan invoice pembelian, lalu mengecek barang karena merasa belum yakin dengan harga yang tercantum,” ujar JS.
Tak hanya koper utama, koper kabin miliknya juga turut diperiksa. JS mengatakan sebagian besar isi koper kabin tersebut berupa kartu Pokemon dan stiker yang disebut sebagai oleh-oleh untuk anaknya.
Baca Juga: Satu Pasien Meninggal Usai Kebakaran RSUD Dr Soetomo, Ini Penjelasan Pihak Rumah Sakit
Dalam proses pemeriksaan, petugas juga menanyakan sejumlah hal terkait perjalanan mereka, mulai dari jadwal keberangkatan dan kepulangan, hingga tujuan serta aktivitas selama berada di China.
JS mengaku sempat diminta menunjukkan bukti tambahan terkait harga kartu Pokemon yang dibawanya. Pasalnya, ada beberapa kartu yang dianggap memiliki nilai tinggi.
“Saya tunjukkan foto-foto saat membeli di pasar sebagai bukti. Ada beberapa foto yang memperlihatkan proses pembeliannya,” katanya.
Baca Juga: Tragis di Museum Ronggowarsito, Siswa SD Meninggal Setelah Tertimpa Patung Saat Wisata Sekolah
Ia juga membantah tudingan bahwa kartu Pokemon yang dibelinya bernilai fantastis hingga jutaan atau ratusan juta rupiah. Menurutnya, seluruh barang tersebut dibeli dengan harga wajar di pasar setempat.
JS menyebut pemeriksaan dilakukan oleh sekitar dua hingga empat petugas. Proses yang berlangsung cukup lama membuat dirinya merasa tertekan hingga sempat menangis.
Artikel Terkait
Tragis di Museum Ronggowarsito, Siswa SD Meninggal Setelah Tertimpa Patung Saat Wisata Sekolah
WNA Italia Dijambret di Bundaran HI, Polisi Buru Pelaku Bermotor Merah
Kebakaran Gedung Jantung RSUD Dr Soetomo Surabaya, 1 Pasien Meninggal dan Puluhan Dievakuasi
Satu Pasien Meninggal Usai Kebakaran RSUD Dr Soetomo, Ini Penjelasan Pihak Rumah Sakit
Gerindra Jatuhkan Teguran Keras ke Anggota DPRD Jember Usai Viral Merokok dan Main Game Saat Rapat Stunting