INSIBERNEWS - Krisis energi tengah melanda Filipina dan menjadi sorotan publik internasional, termasuk di Indonesia. Pemerintah setempat resmi menetapkan status darurat energi nasional pada Kamis, 26 Maret 2026, menyusul tekanan besar pada pasokan bahan bakar.
Keputusan tersebut diambil langsung oleh Presiden Ferdinand Marcos Jr. setelah situasi energi dinilai semakin kritis dalam beberapa pekan terakhir.
Krisis ini dipicu oleh memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari 2026. Salah satu faktor utama adalah penutupan jalur vital Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Langkah tersebut berdampak besar pada distribusi minyak global. Filipina, yang mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan minyaknya dari kawasan tersebut, langsung merasakan dampak signifikan.
Baca Juga: ASN DKI Wajib Ngantor Lagi Mulai 30 Maret, Pramono Siapkan Sanksi Bagi yang Absen Tanpa Alasan
Akibatnya, pasokan energi di dalam negeri menyusut drastis dan mendekati titik kritis.
Harga BBM Melonjak, Warga Beradaptasi
Dampak krisis kini terasa nyata di kehidupan sehari-hari masyarakat. Harga bahan bakar, terutama diesel, dilaporkan melonjak hingga dua kali lipat, menembus angka lebih dari 120 peso per liter.
Kondisi ini memaksa banyak warga di Manila untuk mengubah kebiasaan. Jika sebelumnya mengandalkan kendaraan pribadi atau transportasi umum, kini banyak yang memilih berjalan kaki ke tempat kerja demi menghemat biaya.
Fenomena ini menjadi gambaran nyata betapa beratnya tekanan ekonomi yang sedang dihadapi masyarakat.
Baca Juga: Viral Video Joget, Operasional SPPG Batujajar Dihentikan Sementara oleh BGN
Cadangan Energi Menipis
Data dari Departemen Energi Filipina menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Cadangan bahan bakar nasional diperkirakan hanya mampu bertahan dalam waktu terbatas:
- Bensin: sekitar 53 hari
- Diesel: sekitar 46 hari
- Bahan bakar jet: sekitar 39 hari
Angka ini mempertegas urgensi penanganan krisis dalam waktu dekat.
Transportasi Lumpuh
Sektor transportasi menjadi salah satu yang paling terdampak. Ribuan pengemudi kendaraan umum seperti Jeepney dan becak motor terpaksa mengurangi operasional bahkan berhenti total.
Lonjakan harga bahan bakar membuat biaya operasional tak lagi sebanding dengan pendapatan. Meski pemerintah telah memberikan bantuan tunai sebesar 5.000 peso, banyak pihak menilai langkah tersebut belum cukup.
Artikel Terkait
Kasus Video Viral Asusila Oknum Polisi NTT Terungkap, Diduga Ada Unsur Ancaman
Rem Blong Buat Travel Masuk Jurang di Majalengka, 6 Penumpang Tewas dan Belasan Luka-luka
Kronologi Kecelakaan Maut Pemotor di Pacitan, Diduga Hindari Polisi Berujung Tabrak Tiang
Viral Video Joget, Operasional SPPG Batujajar Dihentikan Sementara oleh BGN
Tabel Gizi MBG Ramadan Tuai Sorotan, Dikritik Konten Kreator Berpotensi Picu Salah Tafsir