INSIBERNEWS - Kondisi sosial di Israel dilaporkan semakin mengkhawatirkan seiring meningkatnya jumlah warga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Data resmi terbaru menunjukkan tekanan ekonomi yang berat, dipicu konflik berkepanjangan, lonjakan biaya hidup, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.
Laporan Kemiskinan Israel 2024 mencatat hampir dua juta orang kini hidup dalam kondisi miskin. Angka tersebut mencerminkan tantangan struktural yang kian dalam, terutama bagi kelompok rentan yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Baca Juga: Harga Emas Antam Anjlok Tajam Akhir Pekan, Turun Rp260 Ribu per Gram
Yang paling terdampak adalah anak-anak. Dari total warga miskin, sekitar 880.000 merupakan anak-anak, atau lebih dari seperempat populasi anak di Israel. Situasi ini menempatkan krisis anak sebagai isu sosial yang semakin mendesak.
Persentase kemiskinan anak diperkirakan mencapai 28 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa perlindungan sosial yang ada belum mampu mengimbangi tekanan ekonomi yang terus bertambah.
Selain kemiskinan, kerawanan pangan juga menjadi masalah serius. Hampir satu juta anak dilaporkan mengalami kesulitan akses pangan yang memadai, kondisi yang berdampak langsung pada kesehatan, pendidikan, dan tumbuh kembang mereka.
Baca Juga: Longsor Terjang Bantaran Kali Bekasi, Enam Rumah Warga Tambun Utara Terdampak
Perang yang berkepanjangan memperburuk situasi tersebut. Gangguan aktivitas ekonomi, meningkatnya pengeluaran rumah tangga, serta berkurangnya kesempatan kerja membuat banyak keluarga jatuh ke jurang kemiskinan lebih dalam.
Biaya hidup yang tinggi, terutama untuk pangan, perumahan, dan energi, disebut sebagai faktor utama yang menekan daya beli masyarakat. Di saat yang sama, pertumbuhan ekonomi yang melambat menghambat upaya pemulihan kesejahteraan.
Baca Juga: Puluhan WNI Korban Online Scam Dipulangkan dari Kamboja, Awal Repatriasi 2026
Sejumlah pengamat sosial menilai kondisi ini berpotensi memicu dampak jangka panjang, termasuk meningkatnya kesenjangan dan beban sosial di masa depan. Mereka mendorong penguatan jaring pengaman sosial dan intervensi kebijakan yang lebih agresif.
Pemerintah Israel dihadapkan pada tantangan besar untuk menyeimbangkan kebutuhan keamanan dengan kewajiban sosial. Tanpa langkah cepat dan terukur, krisis kemiskinan—terutama yang menimpa anak-anak akan semakin sulit dikendalikan.***
Artikel Terkait
Enam Rumah Warga Terdampak Longsor di Bantaran Kali Bekasi, Pemerintah Diminta Bangun Tanggul
Peraih Medali Emas PON, Nurul Akmal Ungkap Kekecewaan Soal Status PPPK Paruh Waktu
Menhan Sjafrie Ungkap Presiden Prabowo Melakukan Pertemuan dengan Tokoh Oposisi, Apa yang Dibahas?
Disebut Anak Haram, Amanda Manopo Ungkap Kesedihan Dibully Netizen Saat Hamil
Usai Rehabilitasi Narkoba, Onad Buka Pengakuan soal Sindrom Peter Pan dan Sulit Lepas dari Masa Muda
DFB Tegaskan Tak Ikut Seruan Boikot Piala Dunia 2026 di AS, Pilih Jalur Dialog dan Sportivitas
Puluhan WNI Korban Online Scam Dipulangkan dari Kamboja, Awal Repatriasi 2026
Kasus Hogi Minaya Ditutup, Perjuangan Bela Istri Berakhir Bebas dari Jerat Hukum
Longsor Terjang Bantaran Kali Bekasi, Enam Rumah Warga Tambun Utara Terdampak
Harga Emas Antam Anjlok Tajam Akhir Pekan, Turun Rp260 Ribu per Gram