INSIBERNEWS - Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan sikap tegas dengan menolak penggunaan wilayah maupun ruang udara mereka untuk kepentingan aksi militer terhadap Iran.
Pernyataan ini menegaskan posisi dua sekutu utama Amerika Serikat di Teluk yang memilih menjaga stabilitas kawasan di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Baca Juga: Dikirim Lewat Program Resmi, PMI Asal Medan Meninggal di Korsel Tanpa Kepastian Hak
Sikap tersebut dinilai menjadi tantangan serius bagi Washington. Selama ini, Arab Saudi dan UEA merupakan mitra strategis AS, sekaligus menjadi lokasi penting bagi kehadiran militer Negeri Paman Sam di Timur Tengah. Penolakan ini otomatis mempersempit ruang manuver AS jika opsi militer terhadap Teheran dipertimbangkan.
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, bahkan disebut menyampaikan langsung sikap tersebut kepada Presiden Iran. Riyadh menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah darat maupun udara Kerajaan digunakan untuk menyerang Iran dalam bentuk apa pun.
Baca Juga: Kepala Bappenas Soroti Urgensi Makan Bergizi Gratis di Tengah Isu Lapangan Kerja
“Arab Saudi tidak ingin terlibat atau menjadi bagian dari eskalasi militer di kawasan,” ujar seorang pejabat yang mengetahui komunikasi tersebut.
Uni Emirat Arab juga mengambil langkah serupa. Abu Dhabi menolak memberikan dukungan logistik, termasuk akses pelabuhan dan fasilitas strategis, untuk operasi militer yang bersifat bermusuhan terhadap Iran. UEA menilai stabilitas kawasan Teluk jauh lebih penting dibanding keterlibatan dalam konflik terbuka.
Baca Juga: DPR Dorong Teknologi BRIN Diterjunkan, Percepat Pencarian Korban Longsor Cisarua
Penolakan dua negara ini memiliki bobot besar. Arab Saudi dan UEA diketahui menampung ribuan personel militer Amerika Serikat, lengkap dengan pangkalan udara, fasilitas radar, hingga pusat logistik yang selama ini menjadi tulang punggung operasi AS di kawasan.
Tanpa akses wilayah dan dukungan tersebut, perencanaan operasi militer AS terhadap Iran akan menjadi jauh lebih rumit. Washington harus mencari jalur alternatif yang lebih panjang, mahal, dan berisiko tinggi, baik dari sisi logistik maupun politik.
Baca Juga: KPK Geledah Dinas Pendidikan Madiun, Sita Dokumen hingga Uang Tunai Puluhan Juta
Di sisi lain, langkah Riyadh dan Abu Dhabi juga dibaca sebagai sinyal perubahan pendekatan negara-negara Teluk. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara berupaya menurunkan tensi dengan Iran melalui jalur diplomasi, termasuk pembukaan kembali komunikasi politik dan kerja sama keamanan terbatas.
Para analis menilai sikap ini mencerminkan keinginan negara-negara Teluk untuk tidak lagi menjadi medan konflik kekuatan besar. Mereka berupaya menjaga keseimbangan hubungan dengan Amerika Serikat tanpa harus terjebak dalam konfrontasi langsung dengan Iran.
Artikel Terkait
Hujan Lebat Masih Mengintai, Pramono Anung Perpanjang PJJ dan WFH di Jakarta hingga 1 Februari 2026
Reza Arap Buka Suara soal Kepergian Lula Lahfah, Isyaratkan Hiatus dan Minta Publik Hentikan Spekulasi
Jelang Ramadan dan Idulfitri, Pemerintah Perkuat Pasokan Energi demi Jaga Inflasi 2026
KPK Geledah Dinas Pendidikan Madiun, Sita Dokumen hingga Uang Tunai Puluhan Juta
Polemik Internal PBNU Mencair, Gus Yahya Siap Tempuh Rapat Pleno dan Sampaikan Permintaan Maaf
IHSG Tertekan 8 Persen, Menkeu Purbaya Yakin Pasar Segera Bangkit dan Tembus Level 10.000
DPR Dorong Teknologi BRIN Diterjunkan, Percepat Pencarian Korban Longsor Cisarua
Indonesia Resmi Masuk Dewan Perdamaian Gaza, Menkeu Singgung Iuran Rp16,7 Triliun
Kepala Bappenas Soroti Urgensi Makan Bergizi Gratis di Tengah Isu Lapangan Kerja
Dikirim Lewat Program Resmi, PMI Asal Medan Meninggal di Korsel Tanpa Kepastian Hak