INSIBERNEWS - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memberi perhatian terhadap dugaan keterlibatan dua raksasa industri sawit, Sinarmas Group dan Musim Mas Group, dalam kerusakan lingkungan di Provinsi Aceh.
Isu ini mencuat setelah Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mengungkap dugaan adanya kolaborasi bisnis yang berkontribusi terhadap degradasi hutan hingga memicu bencana ekologis di Sumatera.
Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Partai NasDem, Rajiv, menyatakan pihaknya tidak akan tinggal diam menanggapi laporan tersebut. Ia menegaskan Komisi IV akan menelusuri lebih lanjut temuan yang disampaikan Jatam, termasuk memeriksa dampak aktivitas perkebunan sawit terhadap kawasan hutan dan lingkungan sekitar.
"Nanti kami di Komisi IV akan mengecek temuan itu secara menyeluruh,"ujar Rajiv saat dimintai tanggapan.
Rajiv menambahkan, jika dalam proses penelusuran ditemukan pelanggaran, maka penegakan hukum harus dilakukan tanpa pandang bulu. Menurutnya, seluruh pelaku usaha wajib tunduk pada regulasi yang berlaku, terlebih jika aktivitasnya berdampak langsung pada keselamatan lingkungan dan masyarakat.
Baca Juga: Ketegangan AS–Iran Dongkrak Harga Minyak, Brent dan WTI Melonjak ke Level Tertinggi Pekan Ini
"(Soal sanksi) tentu mengikuti aturan yang berlaku," tegasnya.
Sebelumnya, Koordinator Nasional Jatam, Melky Nahar, mengungkapkan dugaan kuat adanya keterkaitan antara praktik bisnis sawit Sinarmas Group dan Musim Mas Group—yang saat ini disebut berada di bawah kendali pengusaha Bachtiar Karim—dengan kerusakan ekosistem di Aceh. Kerusakan tersebut diduga berkaitan dengan alih fungsi hutan dan lemahnya pengawasan terhadap konsesi perkebunan.
Menurut Jatam, aktivitas industri sawit di wilayah rawan ekologis seperti Aceh berpotensi memperparah risiko bencana, mulai dari banjir hingga longsor. Kondisi ini dinilai tidak bisa dilepaskan dari menyusutnya tutupan hutan yang selama ini berperan sebagai penyangga lingkungan.
Jatam juga menekankan pentingnya keterbukaan data serta audit menyeluruh terhadap izin dan operasional perusahaan-perusahaan besar di sektor perkebunan. Mereka mendorong pemerintah dan DPR untuk tidak hanya berhenti pada klarifikasi, tetapi juga mengambil langkah konkret demi mencegah kerusakan yang lebih luas.
Isu ini pun menambah daftar panjang sorotan publik terhadap tata kelola industri sawit nasional. Di satu sisi, sektor ini berkontribusi besar terhadap perekonomian, namun di sisi lain kerap dikritik karena dampak lingkungan dan sosial yang ditimbulkannya.
Baca Juga: Persija Resmi Datangkan Shayne Pattynama, Macan Kemayoran Tambah Amunisi Timnas
Artikel Terkait
Kepergian Lula Lahfah Tinggalkan Duka Mendalam, Tangis Reza Arap Pecah di Rumah Duka RSPAD Jakarta
Foto Terakhir Lula Lahfah Tersebar di Medsos, Awkarin Hingga Jennifer Coppen Minta Penyebar Berhenti dan Take Down
Indonesia Tegaskan Dewan Perdamaian Bukan Tandingan PBB, Fokus Kawal Stabilitas Gaza–Palestina
Moment Macron Pakai Bahasa Indonesia Sambut Prabowo di Paris, Isyarat Hangatnya Hubungan Dua Negara
Ketegangan AS–Iran Dongkrak Harga Minyak, Brent dan WTI Melonjak ke Level Tertinggi Pekan Ini
Hubungan Reza Arap dan Lula Lahfah Kembali Disorot Usai Kepergian Sang Selebgram, Kenang Ketulusan Hati Kekasihnya
Bencana Longsor Terjang Pasirlangu Cisarua, 8 Orang Meninggal Dunia dan Puluhan Rumah Tertimbun
Dinar Candy Ingatkan Anak Muda Jauhi Podgeter Tak Lama Setelah Lula Lahfah Tutup Usia
Terkait Kabar Bergabungnya RI, Menlu Ungkap Dewan Perdamaian Dunia Tak Akan Gantikan PBB
82 Orang Hilang, Begini Kesaksian Korban Selamat Longsor Cisarua yang Dengar Dentuman Keras Sebelum Tanah Runtuh