INSIBERNEWS - Harga minyak dunia mengakhiri perdagangan Jumat (23/1/2026) dengan penguatan signifikan dan bertengger di posisi tertinggi dalam lebih dari sepekan. Lonjakan ini dipicu meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.
Penguatan harga terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperketat tekanan terhadap Iran.
Pemerintah AS mengumumkan sanksi tambahan yang menargetkan kapal-kapal pengangkut minyak Iran, bersamaan dengan keputusan Washington mengerahkan armada militernya ke kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Moment Macron Pakai Bahasa Indonesia Sambut Prabowo di Paris, Isyarat Hangatnya Hubungan Dua Negara
Langkah tersebut dinilai pasar sebagai sinyal meningkatnya risiko gangguan pasokan, mengingat Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia. Situasi ini langsung direspons pelaku pasar dengan aksi beli, yang mendorong harga minyak naik tajam.
Minyak mentah Brent sebagai acuan internasional tercatat naik 2,8 persen dan ditutup di level USD65,88 per barel.
Capaian ini menjadi harga penutupan tertinggi sejak 14 Januari, sekaligus menandai pemulihan kuat setelah sempat bergerak volatil dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Indonesia Tegaskan Dewan Perdamaian Bukan Tandingan PBB, Fokus Kawal Stabilitas Gaza–Palestina
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat juga mengalami penguatan signifikan. Kontrak berjangka WTI melonjak 2,9 persen dan ditutup di level USD61,07 per barel, level tertinggi dalam lebih dari sepekan.
Analis pasar energi menilai kenaikan harga kali ini lebih dipengaruhi faktor geopolitik ketimbang fundamental permintaan. Ketidakpastian arah kebijakan AS terhadap Iran membuat mereka yang bergantung pada pasokan Timur Tengah bersikap lebih waspada.
Baca Juga: Nama Cha Eun Woo Terseret Dugaan Penggelapan Pajak, Skema One-Man Agency Jadi Sorotan
"Pasar bereaksi cepat terhadap sinyal risiko pasokan. Selama ketegangan ini belum mereda, harga minyak berpotensi tetap bertahan tinggi," ujar seorang analis energi global.
Di sisi lain, penguatan harga minyak juga didukung oleh ekspektasi permintaan yang stabil dari negara-negara konsumen utama, termasuk China dan India. Namun, para pelaku pasar tetap mencermati perkembangan politik global yang dinilai menjadi faktor penentu pergerakan harga ke depan.
Baca Juga: Listrik Gratis Dinilai Tepat Sasaran, DPR Soroti Kinerja Positif ESDM Sepanjang 2025
Artikel Terkait
Tragedi ATR 42-500, TASPEN Pastikan Hak ASN Korban Dipenuhi untuk Keluarga
Listrik Gratis Dinilai Tepat Sasaran, DPR Soroti Kinerja Positif ESDM Sepanjang 2025
Emas Makin Menggila, Harga Dunia Hampir Sentuh USD5.000 di Tengah Gejolak Global
Rencana 'New Gaza' ala Trump Mengemuka, Dewan Perdamaian Diluncurkan di Davos
Persija Resmi Datangkan Shayne Pattynama, Macan Kemayoran Tambah Amunisi Timnas
Nama Cha Eun Woo Terseret Dugaan Penggelapan Pajak, Skema One-Man Agency Jadi Sorotan
Kepergian Lula Lahfah Tinggalkan Duka Mendalam, Tangis Reza Arap Pecah di Rumah Duka RSPAD Jakarta
Foto Terakhir Lula Lahfah Tersebar di Medsos, Awkarin Hingga Jennifer Coppen Minta Penyebar Bernhenti dan Take Down
Indonesia Tegaskan Dewan Perdamaian Bukan Tandingan PBB, Fokus Kawal Stabilitas Gaza–Palestina
Moment Macron Pakai Bahasa Indonesia Sambut Prabowo di Paris, Isyarat Hangatnya Hubungan Dua Negara