INSIBERNEWS - Harga emas dunia kembali mencetak sejarah dengan melonjak ke level tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Jumat (23/1/2026). Logam mulia ini kian mendekati batas psikologis USD5.000 per troy ons, dipicu kombinasi risiko geopolitik global, ketidakpastian ekonomi, serta pelemahan dolar Amerika Serikat.
Emas spot (XAU/USD) ditutup menguat 1,04 persen ke level USD4.987,54 per troy ons. Sepanjang sesi perdagangan, harga sempat menyentuh rekor intraday di kisaran USD4.990,12 per troy ons, sebelum akhirnya sedikit terkoreksi menjelang penutupan pasar.
Baca Juga: Listrik Gratis Dinilai Tepat Sasaran, DPR Soroti Kinerja Positif ESDM Sepanjang 2025
Lonjakan ini memperpanjang reli emas dalam sepekan terakhir. Dalam lima hari perdagangan, harga emas melesat hingga 8,51 persen, menandai kinerja mingguan terbaik sejak Maret 2020, periode ketika pasar global diguncang pandemi Covid-19.
Kuatnya minat terhadap emas mencerminkan meningkatnya peran aset safe haven di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Investor cenderung mencari perlindungan nilai seiring kekhawatiran terhadap konflik geopolitik, perlambatan ekonomi, serta arah kebijakan moneter negara-negara utama.
“Reli harga emas saat ini banyak dipicu oleh FOMO atau fear of missing out, dengan fokus investor yang tetap kuat pada aset keras,” ujar analis Saxo Bank, dikutip dari Dow Jones Newswires.
Baca Juga: Skandal Jual-Beli Jabatan Desa di Pati, KPK Bongkar Peran 'Tim 8' dan Tarif Pemerasan
Ia menambahkan, meski ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa sempat mereda, sentimen pasar tetap rapuh sehingga emas masih menjadi pilihan utama investor untuk menjaga portofolio mereka.
Optimisme terhadap prospek emas juga datang dari lembaga keuangan besar. Awal pekan ini, Goldman Sachs merevisi naik proyeksi harga emas akhir 2026 menjadi USD5.400 per troy ons, dengan alasan permintaan global yang solid dan risiko ekonomi yang belum sepenuhnya mereda.
Baca Juga: Skandal Gagal Bayar DSI Rp2,4 Triliun, Kantor SCBD Digeledah Polisi
Tak hanya emas, pergerakan serupa juga terjadi pada perak. Harga perak dunia melonjak dan berhasil menembus level USD100 per troy ons pada Jumat, melanjutkan reli tajam yang telah berlangsung sejak sepanjang 2025 hingga awal tahun ini.
Kenaikan perak didorong oleh kombinasi aksi beli investor ritel, pergerakan berbasis momentum, serta ketatnya pasokan fisik. Selain sebagai aset lindung nilai, perak juga dibutuhkan sebagai bahan baku industri, sehingga permintaannya tetap tinggi di tengah keterbatasan suplai.***
Artikel Terkait
Diduga Meninggal Akibat Henti Jantung, Lula Lahfah Ditemukan Tak Bernyawa di Apartemen Jaksel
BRILink Agen Ini Raih Predikat Jawara Nasional dengan Hadirkan Perbankan di Pegunungan Alor NTT
Sebelum Meninggal, Lula Lahfah Sempat Ceritakan Riwayat Penyakitnya Sering Nahan Buang Air dan Jarang Minum Air Putih
Skandal Gagal Bayar DSI Rp2,4 Triliun, Kantor SCBD Digeledah Polisi
Gabung Dewan Gaza Bentukan Trump, Indonesia Diingatkan Jangan Terseret Agenda Terselubung
Anak Ke-4 Rizal Armada Meninggal Dunia di Dalam Kandungan, RIzal ungkap Rasa Ikhlas
Dikritik Soal Banjir, Pramono Tegaskan Jakarta Tak Lagi Pakai Pola Lama
Skandal Jual-Beli Jabatan Desa di Pati, KPK Bongkar Peran 'Tim 8' dan Tarif Pemerasan
Tragedi ATR 42-500, TASPEN Pastikan Hak ASN Korban Dipenuhi untuk Keluarga
Listrik Gratis Dinilai Tepat Sasaran, DPR Soroti Kinerja Positif ESDM Sepanjang 2025