Khamenei Akui Ribuan Orang Tewas dalam Protes Iran, Sebut Trump Jadi Buang Keroknya!

Photo Author
- Senin, 19 Januari 2026 | 14:29 WIB
Korban Tewas Demo Iran capai ribuan orang (Foto : X/khamenei_ir)
Korban Tewas Demo Iran capai ribuan orang (Foto : X/khamenei_ir)

INSIBERNEWS - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui besarnya korban jiwa dalam gelombang protes terbaru yang melanda negaranya. Pernyataan ini menandai sikap paling tegas yang pernah disampaikan otoritas tertinggi Iran terkait eskalasi kekerasan selama demonstrasi berlangsung.

Khamenei menyebut kematian massal tersebut sebagai tindakan yang tidak berperikemanusiaan. Namun, ia menegaskan bahwa tanggung jawab utama atas tragedi tersebut bukan berada di tangan pemerintah Iran, melainkan pihak asing yang ia tuding ikut mengobarkan kekacauan.

Baca Juga: Menkeu Perketat Dana Pensiun ASN-TNI-Polri, Transparansi dan Risiko Investasi Jadi Fokus

“Apa yang terjadi adalah tindakan tidak manusiawi dan biadab,” ujar Khamenei dalam pidato yang disiarkan media pemerintah.

Dalam pernyataannya, Khamenei secara terbuka menuding Amerika Serikat sebagai aktor di balik instabilitas yang berujung pada jatuhnya ribuan korban jiwa. Ia menilai campur tangan asing telah memperkeruh situasi domestik dan memperpanjang konflik di dalam negeri.

Sementara itu, data yang dirilis Human Rights Activists News Agency (HRANA) mencatat sedikitnya 3.090 orang tewas sejak protes pecah. Angka tersebut menjadikan gelombang demonstrasi ini sebagai salah satu yang paling mematikan dalam sejarah modern Iran.

Baca Juga: Anggaran Riset Rp12 Triliun Disorot DPR, Jangan Hanya Dinikmati Kampus Elite!

Kelompok aktivis hak asasi manusia lainnya bahkan memperkirakan jumlah korban jiwa bisa jauh lebih besar. Mereka menduga masih banyak kematian yang belum tercatat secara resmi, terutama di daerah-daerah yang sulit diakses informasi.

Situasi kian diperparah oleh pembatasan dan pemadaman akses internet yang diberlakukan pemerintah Iran. Kebijakan ini membuat arus informasi tersendat dan menyulitkan proses verifikasi data korban secara independen.

Pembatasan komunikasi digital tersebut memicu kekhawatiran internasional akan adanya korban yang luput dari pendataan. Aktivis menilai pemadaman internet membuka celah terjadinya pelanggaran HAM yang tidak terpantau publik global.

Baca Juga: Pola Banjir Jakarta Dinilai Berubah, DPRD Dorong Kewenangan Lebih Besar ke Wilayah

Gelombang protes di Iran sendiri dipicu oleh akumulasi ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi, pembatasan kebebasan sipil, serta kebijakan politik dalam negeri. Demonstrasi yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi bentrokan di berbagai kota.

Pengakuan Khamenei ini memantik perhatian dunia internasional, yang kini mendesak adanya penyelidikan independen. Tekanan global diperkirakan akan terus meningkat seiring kabar korban jiwa yang kian bertambah dan akses informasi yang masih dibatasi.***

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X