INSIBERNEWS - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa Indonesia tidak merasa terancam oleh rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mewacanakan pengenaan tarif impor sebesar 25 persen terhadap negara-negara yang menjalin hubungan dagang dengan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga saat ditemui awak media di sela kegiatan Road to Jakarta Food Security Summit yang digelar di Jakarta, Selasa. Ia memastikan bahwa isu tersebut tidak menimbulkan kekhawatiran berarti bagi perekonomian nasional.
“Tidak ada kekhawatiran,” kata Airlangga singkat menanggapi pertanyaan wartawan.
Airlangga menjelaskan bahwa sikap tenang pemerintah didasarkan pada fakta bahwa nilai perdagangan antara Indonesia dan Iran relatif kecil. Dengan skala transaksi yang terbatas, potensi dampak dari kebijakan tarif Amerika Serikat dinilai tidak signifikan bagi neraca perdagangan Indonesia.
“Transaksi perdagangan kita dengan Iran tidak besar,” ujarnya menegaskan.
Meski tidak merinci angka pasti nilai perdagangan kedua negara, Airlangga memastikan bahwa pemerintah telah melakukan pemetaan terhadap berbagai risiko global, termasuk kebijakan perdagangan negara besar seperti Amerika Serikat.
Menurutnya, pemerintah terus memantau dinamika geopolitik dan kebijakan ekonomi internasional yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Namun, hingga saat ini, isu tarif tersebut belum masuk dalam kategori ancaman serius bagi Indonesia.
Airlangga juga menekankan bahwa Indonesia memiliki hubungan dagang yang lebih luas dan terdiversifikasi dengan banyak negara mitra, sehingga tidak bergantung pada satu pasar tertentu. Hal ini membuat ekonomi nasional relatif lebih tahan terhadap tekanan eksternal.
Baca Juga: Iran-AS di Ambang Konflik: Siaga Militer, tapi Masih Buka Peluang Diplomasi
Di tengah ketidakpastian global, pemerintah tetap fokus menjaga iklim investasi dan perdagangan agar tetap kondusif. Langkah-langkah antisipatif, kata Airlangga, terus disiapkan untuk merespons perubahan kebijakan global secara cepat dan terukur.
Dengan sikap yang terukur dan pendekatan diplomasi ekonomi yang aktif, pemerintah optimistis Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional meski dihadapkan pada dinamika politik dan perdagangan internasional yang fluktuatif.***
Artikel Terkait
Heboh! Ilustrasi 'Firaun' dari Khamenei untuk Trump, Ketegangan Iran–AS Kembali Memanas
Setop Impor Solar, Pemerintah Pacu Produksi Dalam Negeri Mulai Paruh Kedua 2026
AS Godok RUU Aneksasi Greenland, Denmark dan Dunia Bereaksi Keras
Kasus Kuota Haji Kemenag Bergulir, KPK Periksa Pejabat PBNU
Korut Murka di PBB, AS Dituding Mainkan Isu Sanksi dan Abaikan Etika Global
Proses Registrasi Dibuka! Berikut Info Jadwal dan Syarat Pendaftaran Siswa Jalur SNPMB 2026
KPK Sita Ribuan Dolar Singapura dari Kantor Pajak Jakut, Jejak Dugaan Rekayasa Pajak Terkuak
Iran-AS di Ambang Konflik: Siaga Militer, tapi Masih Buka Peluang Diplomasi
Alasan Di Balik John Herdman Mau Jadi Pelatih Timnas, Visi Jelas hingga Kualitas Pemain jadi Daya Pikatnya
Indonesia Masters 2026 Kembali ke Istora, Bukan Sekadar Turnamen tapi Panggung Kebanggaan Bulu Tangkis Nasional