Korut Murka di PBB, AS Dituding Mainkan Isu Sanksi dan Abaikan Etika Global

Photo Author
- Selasa, 13 Januari 2026 | 13:44 WIB
Kim Jong-un - Presiden Korea Utara (Foto : KCNA/YNA/dpa)
Kim Jong-un - Presiden Korea Utara (Foto : KCNA/YNA/dpa)

INSIBERNEWS - Korea Utara kembali melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat. Pada Senin (12/1), Pyongyang menilai Washington telah bertindak 'tidak tahu malu' dan secara terang-terangan merusak martabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) demi kepentingan politiknya sendiri.

Kecaman tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi misi Korea Utara untuk PBB di New York. Dalam pernyataan itu, Pyongyang secara tegas menolak rencana pengarahan yang digagas Amerika Serikat terkait dugaan pelanggaran sanksi internasional oleh Korea Utara.

Baca Juga: Kasus Kuota Haji Kemenag Bergulir, KPK Periksa Pejabat PBNU

Pernyataan tersebut kemudian dipublikasikan oleh kantor berita pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA). Pyongyang menilai langkah AS itu bukan sekadar prosedur diplomatik, melainkan upaya sepihak yang dinilai mencederai prinsip netralitas PBB.

“Amerika Serikat telah meremehkan keberadaan PBB itu sendiri dan menyalahgunakan forum internasional untuk kepentingan politiknya,” demikian bunyi pernyataan misi Korea Utara di PBB yang dikutip media internasional.

Dalam pandangan Pyongyang, isu yang seharusnya mendapat perhatian serius di PBB bukanlah tudingan terhadap Korea Utara, melainkan tindakan-tindakan Amerika Serikat yang dinilai melanggar hukum internasional. Korea Utara menyebut AS kerap bertindak sewenang-wenang tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap stabilitas global.

Baca Juga: Setop Impor Solar, Pemerintah Pacu Produksi Dalam Negeri Mulai Paruh Kedua 2026

“Yang patut dipertanyakan dan dibahas secara terbuka di PBB justru adalah berbagai tindakan kriminal yang dilakukan Amerika Serikat,” lanjut pernyataan tersebut.

Meski demikian, diplomat Korea Utara tidak merinci secara spesifik tindakan kriminal yang dimaksud. Namun, pernyataan itu muncul tidak lama setelah Amerika Serikat melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, sebuah langkah yang menuai kontroversi luas di dunia internasional.

Korea Utara selama ini memang berada di bawah sanksi Dewan Keamanan PBB terkait program nuklir dan pengembangan misil balistiknya. Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang paling vokal mendorong pengetatan sanksi, dengan alasan menjaga keamanan dan stabilitas kawasan.

Baca Juga: Heboh! Ilustrasi 'Firaun' dari Khamenei untuk Trump, Ketegangan Iran–AS Kembali Memanas

Hubungan antara Pyongyang dan Washington pun terus berada dalam tensi tinggi. Saling tuding dan perang pernyataan kerap terjadi, menandai rapuhnya dialog diplomatik antara kedua negara yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.***

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X