INSIBERNEWS - Korea Utara kembali melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat. Pada Senin (12/1), Pyongyang menilai Washington telah bertindak 'tidak tahu malu' dan secara terang-terangan merusak martabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) demi kepentingan politiknya sendiri.
Kecaman tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi misi Korea Utara untuk PBB di New York. Dalam pernyataan itu, Pyongyang secara tegas menolak rencana pengarahan yang digagas Amerika Serikat terkait dugaan pelanggaran sanksi internasional oleh Korea Utara.
Baca Juga: Kasus Kuota Haji Kemenag Bergulir, KPK Periksa Pejabat PBNU
Pernyataan tersebut kemudian dipublikasikan oleh kantor berita pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA). Pyongyang menilai langkah AS itu bukan sekadar prosedur diplomatik, melainkan upaya sepihak yang dinilai mencederai prinsip netralitas PBB.
“Amerika Serikat telah meremehkan keberadaan PBB itu sendiri dan menyalahgunakan forum internasional untuk kepentingan politiknya,” demikian bunyi pernyataan misi Korea Utara di PBB yang dikutip media internasional.
Dalam pandangan Pyongyang, isu yang seharusnya mendapat perhatian serius di PBB bukanlah tudingan terhadap Korea Utara, melainkan tindakan-tindakan Amerika Serikat yang dinilai melanggar hukum internasional. Korea Utara menyebut AS kerap bertindak sewenang-wenang tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap stabilitas global.
Baca Juga: Setop Impor Solar, Pemerintah Pacu Produksi Dalam Negeri Mulai Paruh Kedua 2026
“Yang patut dipertanyakan dan dibahas secara terbuka di PBB justru adalah berbagai tindakan kriminal yang dilakukan Amerika Serikat,” lanjut pernyataan tersebut.
Meski demikian, diplomat Korea Utara tidak merinci secara spesifik tindakan kriminal yang dimaksud. Namun, pernyataan itu muncul tidak lama setelah Amerika Serikat melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, sebuah langkah yang menuai kontroversi luas di dunia internasional.
Korea Utara selama ini memang berada di bawah sanksi Dewan Keamanan PBB terkait program nuklir dan pengembangan misil balistiknya. Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang paling vokal mendorong pengetatan sanksi, dengan alasan menjaga keamanan dan stabilitas kawasan.
Baca Juga: Heboh! Ilustrasi 'Firaun' dari Khamenei untuk Trump, Ketegangan Iran–AS Kembali Memanas
Hubungan antara Pyongyang dan Washington pun terus berada dalam tensi tinggi. Saling tuding dan perang pernyataan kerap terjadi, menandai rapuhnya dialog diplomatik antara kedua negara yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.***
Artikel Terkait
Di Balik Kemenangan Persib lawan Persija, Thom Haye Soroti Sisi Gelap Sepak Bola Tanah Air
Pandji Pragiwaksono Dilaporkan Usai Show ‘Mens Rea’, Abraham Samad Angkat Bicara Soal Risiko Hukum KUHP Baru
Targetkan Bangun 500 Sekolah Rakyat Gratis untuk Siswa Miskin hingga 2029, Prabowo Ungkap Bakal Tampung 500,000 Anak
Perkenalan John Herdman Diundur Sehari, Sosok Pelatih Baru Timnas Indonesia Ini Dianggap Mirip Pep Guardiola
Konflik Ari Lasso dan Dearly Djoshua Memanas, Tuntut Hapus Foto Bersama di Bali
BRI Perkuat Likuiditas, Terbitkan Surat Berharga Komersial untuk Dukung Pendalaman Pasar Keuangan Nasional
Heboh! Ilustrasi 'Firaun' dari Khamenei untuk Trump, Ketegangan Iran–AS Kembali Memanas
Setop Impor Solar, Pemerintah Pacu Produksi Dalam Negeri Mulai Paruh Kedua 2026
AS Godok RUU Aneksasi Greenland, Denmark dan Dunia Bereaksi Keras
Kasus Kuota Haji Kemenag Bergulir, KPK Periksa Pejabat PBNU