INSIBERNEWS - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan sikapnya untuk tidak bertemu dengan Reza Pahlavi, tokoh oposisi Iran yang mengklaim diri sebagai Putra Mahkota Iran, di tengah meningkatnya gelombang demonstrasi anti-pemerintah di negara tersebut.
Meski menyebut Reza Pahlavi sebagai sosok yang baik, Trump menilai pertemuan resmi dengan figur monarkis Iran bukan langkah yang tepat untuk dilakukan saat ini. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara di podcast The Hugh Hewitt Show pada Kamis (8/1), sebagaimana dikutip media internasional.
“Saya rasa lebih baik kita melihat bagaimana situasi berkembang dan siapa yang akhirnya muncul,” ujar Trump.
Baca Juga: Yaqut Cholil Qoumas Jadi Tersangka Korupsi Kuota Haji, KPK Sita Dana Senilai Rp100 Miliar
Ia menambahkan bahwa sebagai Presiden Amerika Serikat, dirinya harus berhati-hati dalam mengambil langkah diplomatik yang berpotensi memicu eskalasi politik.
Reza Pahlavi merupakan putra Shah Mohammad Reza Pahlavi, penguasa terakhir Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979.
Saat ini, ia bermukim di Amerika Serikat dan dikenal memiliki hubungan dekat dengan Israel. Pahlavi juga menjadi salah satu figur utama yang memimpin kelompok monarkis dalam barisan oposisi Iran yang terpecah.
Baca Juga: BYD Kian Perkasa di Pasar Mobil Listrik, Optimistis Kuasai Indonesia hingga 2026
Sikap Trump tersebut mengindikasikan bahwa Amerika Serikat belum memberikan dukungan terhadap klaim Reza Pahlavi untuk memimpin transisi pemerintahan jika rezim Iran saat ini runtuh.
Di dalam negeri, pemerintah Iran sedang menghadapi tekanan besar akibat gelombang protes yang meluas di berbagai wilayah. Aksi demonstrasi ini dipicu oleh krisis ekonomi berkepanjangan, melemahnya nilai tukar rial, serta dampak sanksi berat yang dijatuhkan Amerika Serikat.
Untuk meredam aksi massa, otoritas Iran dilaporkan memutus akses internet pada Kamis. Langkah ini dinilai sebagai upaya membatasi koordinasi dan penyebaran informasi di kalangan demonstran. Namun, Reza Pahlavi justru menyerukan agar aksi protes terus dilanjutkan.
Baca Juga: Miris! Identitas Digital Jadi Dagangan, Data Pribadi Dijual Murah di Pasar Gelap Siber
Trump sebelumnya juga mengeluarkan peringatan keras kepada pemerintah Iran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap demonstran. Ancaman tersebut kembali ia tegaskan, dengan menyebut bahwa Amerika Serikat tidak akan tinggal diam jika terjadi pembunuhan massal terhadap warga sipil.
“Mereka menangani situasi ini dengan sangat buruk. Jika mereka mulai membunuh rakyatnya sendiri, kami akan bertindak sangat tegas,” kata Trump.
Artikel Terkait
Miris! Identitas Digital Jadi Dagangan, Data Pribadi Dijual Murah di Pasar Gelap Siber
Jadi Tersangka Kasus Kuota Haji, Gus Yaqut Pilih Kooperatif dan Hormati Proses Hukum
Yaqut Cholil Qoumas Jadi Tersangka Korupsi Kuota Haji, KPK Sita Dana Senilai Rp100 Miliar
Bangga! Momen Prabowo Hitung Medali Emas Martina Ayu Disambut Gemuruh Tepuk Tangan
Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024 Berujung Tersangka, Ini Peran Para Pihak
Operasi Tangkap Tangan KPK di Kanwil DJP Jakarta Utara, 8 Orang Diamankan