Miris! Identitas Digital Jadi Dagangan, Data Pribadi Dijual Murah di Pasar Gelap Siber

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Jumat, 9 Januari 2026 | 15:53 WIB
ilustrasi Pasar Gelap Siber (freepik)
ilustrasi Pasar Gelap Siber (freepik)

INSIBERNEWS - Privasi di era digital kian kehilangan makna dasarnya sebagai hak individu. Saat ini, data pribadi justru menjelma komoditas bernilai ekonomi yang diperjualbelikan secara terbuka di pasar gelap dunia maya.

Fakta itu terungkap dalam laporan Kaspersky Digital Footprint Intelligence yang menyebut identitas resmi seperti paspor atau KTP digital hanya dihargai sekitar 15 dolar Amerika Serikat, atau setara Rp240 ribu, di dark web. Angka tersebut menunjukkan betapa rendahnya nilai sebuah identitas di tangan pelaku kejahatan siber.

Baca Juga: Muhammadiyah Buka Suara Soal Pelapor Pandji Pragiwaksono Yang Mengatasnamakan Pemuda Muhammadiyah

Harga yang murah bukan berarti risikonya kecil. Sebaliknya, data tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai tindak kejahatan, mulai dari pembobolan rekening, penipuan pinjaman online, hingga pencucian uang lintas negara.

"Identitas digital kini diperlakukan layaknya barang dagangan massal, bukan lagi informasi pribadi yang dilindungi," ujar seorang peneliti keamanan siber yang terlibat dalam pemantauan pasar gelap digital.

Laporan tersebut juga mencatat perubahan signifikan dalam pola kejahatan siber sepanjang Januari hingga September 2025. Jika sebelumnya serangan siber kerap berfokus pada perusakan sistem atau sabotase layanan, kini para pelaku lebih tertarik mengumpulkan data yang bisa langsung diuangkan.

Baca Juga: Ramai Soal Laporan Materi Komedi Mens Rea Pandji Pragiwaksono, Arie Kriting Minta Pelapor Pahami Dulu Materi Komedi Pandji

Para penjahat siber bekerja layaknya perusahaan profesional. Mereka memiliki pembagian peran yang jelas, mulai dari peretas, pengumpul data, hingga penjual yang memasarkan informasi curian ke berbagai forum tertutup.

Aset digital seperti kredensial login, data keuangan, hingga dokumen identitas menjadi target utama. Data-data ini kemudian dikemas dan dijual dalam jumlah besar, menandai pergeseran cybercrime menjadi industri terorganisir berbasis keuntungan.

Baca Juga: Wali Kota Tangsel Tanggapi Aksi Mahasiswa Soal Sampah, Pemkot Percepat Penanganan Lingkungan

Kondisi ini diperparah oleh rendahnya kesadaran pengguna terhadap keamanan digital. Penggunaan kata sandi lemah, kebiasaan mengklik tautan mencurigakan, serta minimnya perlindungan ganda membuat pencurian data semakin mudah dilakukan.

Para pakar menilai tren ini harus menjadi peringatan serius bagi individu maupun institusi. Perlindungan data tidak lagi cukup mengandalkan sistem, tetapi juga memerlukan perubahan perilaku pengguna di ruang digital.

Ke depan, tantangan keamanan siber diprediksi akan semakin kompleks. Tanpa upaya perlindungan yang lebih kuat dan kesadaran kolektif, identitas digital masyarakat berisiko terus menjadi sasaran empuk industri kejahatan siber global.***

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X