INSIBERNEWS - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mulai membuka pembicaraan dengan pihak Amerika Serikat terkait peluang kerja sama akses tambang mineral kritis.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global komoditas strategis yang kini semakin dibutuhkan dunia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, komunikasi tersebut berlangsung dalam kerangka negosiasi tarif resiprokal nol persen untuk sejumlah komoditas sumber daya alam Indonesia.
Pemerintah melihat peluang ini sebagai pintu masuk untuk memperluas kerja sama dagang sekaligus investasi bernilai tambah.
Baca Juga: Soroti Konvoi Bendera GAM, Dave Laksono Ajak Warga dan Aparat Jaga Kondusivitas Aceh
“Pembahasan dengan Amerika Serikat ini merupakan bagian dari negosiasi tarif resiprokal nol persen untuk beberapa komoditas unggulan Indonesia,” ujar Airlangga dalam keterangannya.
Dalam skema kerja sama tersebut, BPI Danantara memiliki peran sebagai fasilitator dengan pendekatan business to business. Artinya, Danantara tidak terlibat langsung sebagai pelaku usaha, melainkan menjembatani kepentingan perusahaan Indonesia dengan perusahaan Amerika Serikat yang berminat menanamkan modal di sektor mineral kritis.
Baca Juga: Akses Putus Tak Kunjung Pulih, Warga Syiah Utama Bener Meriah Masih Bertahan dalam Keterisolasian
“Peran Danantara adalah mempertemukan dan memfasilitasi kerja sama langsung antara pelaku usaha kedua negara,” kata Airlangga.
Menurut Airlangga, Amerika Serikat menunjukkan minat besar terhadap sejumlah mineral strategis yang dimiliki Indonesia.
Selain tembaga, mineral lain yang masuk radar adalah nikel, bauksit, serta logam tanah jarang atau rare earth yang kini menjadi komponen penting industri kendaraan listrik, energi terbarukan, dan teknologi tinggi.
Baca Juga: Dokter Detektif Tak Ditahan Meski Jadi Tersangka, Polisi Dorong Jalan Damai dengan Richard Lee
Untuk komoditas nikel, Airlangga mencontohkan kehadiran perusahaan multinasional yang sudah lama beroperasi di Tanah Air. Salah satunya adalah PT Vale Indonesia Tbk yang telah menjalankan kegiatan usaha sejak era 1970-an dan menjadi bagian penting dari industri pertambangan nasional.
Ia menambahkan, pemerintah ingin memastikan bahwa kerja sama dengan mitra asing tidak hanya berfokus pada eksploitasi bahan mentah, tetapi juga mendorong pengembangan industri hilir.
Artikel Terkait
Hujan Deras Picu Banjir di Bekasi, Sembilan Titik Tergenang hingga 135 Sentimeter
Kasus Narkoba DWP 2025, Tigran Denre Sonda Serahkan Diri
Natal 2025, Prabowo Ajak Bangsa Bersatu dan Fokus Bantu Korban Bencana Sumatra
Kejagung Kocok Ulang Pejabat, Kursi Kajari Bekasi Berganti Usai OTT KPK
Kemhan Bantah Isu Pelantikan Ayu Aulia, Tegaskan Tak Ada Penugasan Resmi
Dokter Detektif Tak Ditahan Meski Jadi Tersangka, Polisi Dorong Jalan Damai dengan Richard Lee
Bertahan di Atap Saat Diterjang Banjir, Warga Aceh Tamiang Kenang Malam Panjang Bersama 18 Orang
Akses Putus Tak Kunjung Pulih, Warga Syiah Utama Bener Meriah Masih Bertahan dalam Keterisolasian
AS Dorong Fase Kedua Gencatan Senjata Gaza Awal Januari, Israel Khawatir Isu Perlucutan Senjata
Soroti Konvoi Bendera GAM, Dave Laksono Ajak Warga dan Aparat Jaga Kondusivitas Aceh